Posted by: wulynne | October 22, 2009

Tantrum

Definisi literalnya kemarahan, kemurkaan. Secara istilah mungkin begini: bagaimana seseorang mengeluarkan amarah yang hebat (untuk mencapai maksudnya). Saya persempit lagi di sini dalam lingkup tantrum balita (dan juga tantrum orang tuanya dalam menghadapi tantrum balitanya). Secara saya sedang punya kesulitan yang cukup menguji kesabaran saya dalam mendampingi si sulung 4,5 tahun.

Entah kapan mulainya sulung kami ini mulai bertantrum ria. Terasa oleh saya sih mulai adeknya lahir. Dan semenjak sulung mulai masuk TK. Tangisannya yang lumayan menjengkelkan tanpa jeda, ck bener-bener awet. Istiqamah banget sulung menangis sampai tercapai keinginannya. Hmmh, ego yang luar biasa. Saya masih menganggap itu wajar karena masa perkembangan balita memang demikian adanya. Terutama mulai umur 2 tahun. Sampai umur berapa, itu masih bervariasi. Kemungkinan besar tergantung pada bagaimana orang-tua atau pendampingnya (care  taker/custody) memberikan treatmen terhadap tantrum balita ini.

Terus terang, kalau saya lagi capek fisik atau pun lagi futur ruhiyah, tantrum balita ini bener-bener membuat ‘monster’ dalam diri saya bangun. Jadi, saat si monster ini kemudian mengambil alih kendali hati terhadap semua indera saya, dia mulai mengancam sulung. Bahwa kalau sulung ga berhenti dari rengekannya, dia akan mencubitnya, atau memukulnya (tentu saja dia ga bakalan membunuhnya, kurasa). Apakah itu menghasilkan keberhasilan? Apakah ancaman-ancaman itu membuat sulung menghentikan terornya? Saya yakin Anda sudah tahu jawabannya. Tentu saja tidak. Sebaliknya, sulung makin memperkeras volume jeritannya. Oh My God! Mercy me! Allah tolong kasihani saya. Batin saya.

Memang luar biasa proses yang terjadi dalam diri saya saat itu. Di saat si monster menggerung marah dan melontarkan kata-kata yang tak cukup bijak, kata-kata yang tak diedit, sisi lain hati saya berteriak memberi peringatan. Sabar Bunda! Dia cuma seorang anak kecil. Masih 4,5 tahun. Dia bahkan ga tau mana yang benar dan mana yang salah. Jangan harapkan dia bersikap kayak kita yang udah dewasa. Maha Suci Allah yang menciptakan nafsu lawwamah pada diri manusia untuk bisa mengingatkan diri sendiri saat berbuat kesalahan.

Saya benar-benar menyadari, bahkan saat si monster lebih memegang kendali, bahwa balita memang butuh selalu diingatkan, diarahkan tentang mana yang benar, mana yang salah. Jangankan yang balita, yang dewasa saja masih harus sering diingatkan.

Tapi terkadang saya bener-bener ga bisa menahan diri lagi. Benarlah sabda  Rasulullah saw. setelah perang Badar pada para sahabat, bahwa jihad yang terbesar adalah jihad melawan diri sendiri. Acap kali saya kalah melawan diri saya sendiri. Terutama dalam menundukkan kemarahan, si monster dalam diri saya. Ha ha. Saya jadi ingat suatu masa lalu, sahabat dekat saya mengatakan bahwa muka saya kalau lagi marah bener-bener kayak hantu. Mungkin lebih tepatnya kayak setan ya. Ya, saya pernah sangat marah padanya sampai gemetar badan dan suara saya saat kemarahan itu mencapai ambang batasnya. Tak heran, seseorang bisa sampai bener-bener kerasukan/kesurupan. Kondisi dimana dia tidak punya kendali apapun terhadap dirinya sendiri. Tak ingat lagi siapa dirinya. Na’udzu billahi min dzaalik. Semoga kita terlindung dari yang demikian.  

Energi kemarahan kadang membuat saya takjub. Besar sekali. Sering saya coba mengalihkan energi itu pada hal lain, misal mencuci piring dan alat dapur kotor yang menggunung. Subhanallah. Bisa selesai dalam waktu yang sangat singkat. Atau untuk membuka tutup galon air minum (merk Aq atau Cl atau yang lain). Dalam kondisi normal saya akan memerlukan alat bantu, misalnya pisau, untuk mengoyak tutup plastik yang cukup tebal itu. Subhanallah, jika sedang marah saya sanggup menyentakkan tutup itu tanpa pisau. Dan hanya sekali sentak, langsung lepas. Bukan berarti saya menyukai kondisi hati saya saat marah sih.

Sekedar untuk mengilustrasikan besarnya energi marah itu saja. Jadi, jangan heran jika seseorang bahkan bisa melukai bahkan membunuh jiwa lain saat dia marah. Bila sudah gelap mata, tak bisa lagi akal sehatnya mengukur kekuatannya. Seseorang bahkan bisa membanting barang berat hingga hancur lebur. Atau dia bisa meninju pintu sampai pintu itu jebol. Apakah kondisi itu sangat familier? Jangan-jangan saya sedang membicarakan kemarahan Anda ya? Ha ha. Tak perlu malu lah. Ini sangat manusiawi. Tapi tentu saja, sebagai manusia kita diberikan panduan/tuntunan bagaimana untuk mengendalikan monster dalam diri kita ini. Beruntung kita punya Pencipta Yang Maha Pemurah, juga Penyayang. Dia mengutuskan seseorang untuk bisa memandu manusia mencapai kondisi terbaik dalam dirinya. Self control.

Tentang tantrum balita, saya tahu sekali bahwa sebenarnya saya jauh lebih beruntung dari mereka yang tantrum balitanya lebih dashyat. Pernah saya melihat balita nangis dan menggelosorkan badannya di Mall. Berteriak-teriak dan menendang-nendang ngga karuan membuat muka ibunya merah padam. 

Sulung saya pun lebih over tantrumnya saat ada orang lain. Apakah itu ayahnya, atau kakek-neneknya atau orang lain di luar lingkar keluarga besar. Hanya saja, tantrumnya, alhamdulillah, tidak sampai secara fisik banget seperti balita di Mall tadi. Hanya tangis dan rengekannya jauh lebih keras dan lebih awet.

Lalu, bagaimana solusinya? Membentak dan mencubit atau memukul tentu bukan pilihan jika kita memilih ikut panduan/tuntunan untuk menjadi versi terbaik dari diri kita. Saya yakin, haqqul yakin, Rasulullah saw tak sekalipun membentak balita. Kita pasti pernah merasakan diri kita mencapai versi terlembut saat hati kita tersentuh oleh suatu hal. Tapi lebih sulit mempertahankan si lembut itu saat si monster muncul, rasanya.

Solusi yang ditawarkan dalam panduan/tuntunan kita antara lain: berlindung pada Yang Maha Kuat dari kemarahan yang ditiupkan setan pada kita, berlindung dari provokasi setan yang merindu-dendam agar bisa membawa kita ke kerak jahannam.

Apa lagi? Saya membayangkan setan pun bisa terluka, bisa berdarah, tapi tentu dengan cara-cara yang syathoni lah. Dan bacaan Al-Qur’an bisa benar-benar melukai dan membuat setan berdarah-darah, dan meninggalkan kita, lari terbirit-birit dari sumber bacaan Al-Qur’an. Ayat kursiy, Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas memang terkenal sebagai ajian pelindung dari setan, tentu saja dengan cara membacanya dengan penghayatan, bukan dengan tulisan atau fotokopian yang disimpang di dompet,h cara ikat pinggang, atau dipajang di atas pintu rumah. Kalau dipajang gitu, apakah maksudnya setan disuruh untuk baca sendiri? Geli saya jadinya. Sudah pasti setan ga mau berhenti sebentar untuk baca Al-Qur’an kan.

Nah, apa lagi tuntunan untuk meredakan atau melibas sama sekali si monster dalam diri kita? Tahukah Anda, bahwa kemarahan adalah juga sebuah dosa? Bukan dosa besar memang. Tapi kalau dosa kecil ini bertumpuk-tumpuk? Bukankah akan jadi dosa yang lumayan berat? Jadi, baik sekali seandainya kita berusaha beristighfar, memohon ampun pada Yang Maha Pengampun, agar dosa-dosa kecil ini dihapus dari kita, sekaligus mengingatkan diri sendiri agar bisa menekan atau membunuh sama sekali si monster ini, seandainya mungkin.

Tuntunan lainnya lagi antara lain: Mengubah posisi badan. Jika tadinya berdiri, berusahalah untuk duduk. Jika masih terasa marah, berusaha rebah. Jika masih marah lagi, sebaiknya berwudhu’ dan shalat.

Yang sering terjadi, saat si monster muncul, kita sering terlanjur marah dan lupa untuk sekedar berlindung dari setan yang meniup-niupi dada kita. Lawan! Berusaha untuk ingat pada Allah, minta perlindungannya dari setan, dari diri kita sendiri.

Itu kira-kira solusi untuk tantrum orang tua yang menghadapi tantrum balitanya. Lalu, bagaimana mengarahkan tantrum balitanya sendiri? Hmmm, karena saya sendiri juga sedang learning by doing it, saya hanya bisa memberika alternatif yang memungkinkan, bagi saya terutama :)

Pernah nonton Nanny 911 di Metro TV? Sabtu, jam setengah lima sore kalau tak salah. Sering dicontohkan bagaimana sang Nanny menjinakkan tantrum balita-balita dalam keluarga-keluarga yang kesulitan dalam menangani balita mereka. Saya pun kadang habis akal memikirkan caranya sampai saya melihat cara-cara sang Nanny.

Pada dasarnya, dia akan membiarkan si balita meluapkan tantrumnya dulu. Berusaha mengajaknya bicara, kalau memungkinkan. Jika terlalu berontak dan balita mengganggu atau menyakiti orang tua atau saudaranya yang lain, maka Nanny akan menghukumnya. Menyuruhnya duduk di kursi hukuman. Hanya duduk saja di sana sampai dia diam dan bisa diajak bicara. Sering kali balita (atau anak seusia SD) berontak melarikan diri, tapi hanya untuk didudukkan lagi di kursi itu. Dan hal ini bisa butuh waktu banyak. Bisa belasan kali sampai si balita/anak menyerah, duduk diam di kursi itu. Wah, hanya menceritakannya saja, saya harus menarik napas dalam-dalam :D Baru setelah itu si balita/anak diajak bicara baik-baik, tanpa menyalahkan. Kita juga harus mendengarkan apa yang membuat dia kesal/marah/sedih. Kadang anak belum tahu emosi apa yang dia rasakan itu. Makanya kita perlu mengenalkanpada anak jenis-jenis emosi.

Memang bukan latihan yang gampang untuk bisa membantu anak melewati masa-masa penuh tantrum ini. Tapi bukankah memang itu tujuan Allah memberikan amanah ini pada kita? Selamat menikmati proses segala macam tantrum, dari balita, anak, remaja, hingga dewasa. Good luck :)

Posted by: wulynne | October 7, 2009

Twilight: Ketika Sang Vampir Mencintai Mangsanya

Thanks Khotma, dah membuatku nonton Twilight.

Ehm. Biasanya kalo film tentang vampir tuh yang disorot banget pasti tentang seremnya dan kebanyakan berdarah-darah gitu. Tapi Twilight… film drama misteri malah  mbahas sisi romantis sang vampir. Indah banget. Tiga kali daku tonton film romantis ini, dan daku belum bosen, hihi.

Kalo film remaja SMU biasanya bintangnya bakal cantik, di Twilight kok biasa aja menurutku sih. Hanya saja, di scene-scene tertentu, kadang dia nampak cantik, Kristen Stewart. Apa itu yang disebut inner beauty ya? Kecantikan dari dalam. Atau, jangan-jangan cuma trik kamera? Heee…

Robert Pattison pun gitu, kadang aja nampak ganteng di Twilight. Apa karena dia vampir yang romantis… longing for blood and also love…ahh damn romantic!

Lucu bin ajaib sih scene ketika mereka ketemu pertama kali di kelas biologi. Kecele abis daku, kupikir reaksi si …mmm… sapa namanya disitu…ah! Edward Cullen, nutup hidung karena si Bella lewat depan kipas angin, kupikir, karena bau badan Bella disgusting or sejenis itulah…eh ternyata… :D tonton ndiri aja deh ;)

Cinta mereka cinta monyet gitu. Cinta buta yang: I don’t care even if you are a vampire, predators of human, hunting human for their blodd. Pokoke gue cinta. Mau banget si Bella jadi vampir demi bisa bersama si Edward selamanya.

Dialog cintanya daku suka:

Bella: The last time I saw you, they’re black, and now they’re golden brown

Edward: I don’t have the strenght to stay away from you anymore (haduuuuh, daku cinta line ini, ga ku-kuuu, bisa bikin hati klepek-klepek)

Edward: And the lion falls in love with the lamb
Bella: Stupid lamb
Edward: A sick and miserable lion (kalo ga salah siiih, ga terlalu kedengaran soale doi berbisik, atao anak gw aja lagi ribut hihi)

Edward: Isn’t it enough just living beside me for the rest of your life? (Line ini biasa saja kalo diucapkan sendiri gini, tapi cantik kalo dipakai untuk menolak request Bella pas minta dijadiin vampir oleh Edward)

Dan banyak lagi.

Monolog Bella juga aku suka. Yang awal tentang pilihan tempat untuk mati dekat orang yang dia cintai. Di tengah, tentang three things she’s positive are:… Juga di scene yang Bella dirawat setelah hampir mati dihisap darahnya sama Edward.

Hal yang wuaneh and ga bisa kuterima di film ini, yang menurutku maksa banget adalah bahwa vampir ga bisa kena sinar matahari karena takut ketauan bahwa mereka berbeda.

Beda? Hihi, iya. Karena saat kena matahari badan dan muka mereka…. Pasti kau bakal jawab hangus jadi abu kan? Bukan! Badan mereka…twinkling…like diamond! Maksa ngga tuuuh? Alah tapi ya udahlah, mungkin maksudnya pengen bikin dialog yang touching karena saat itu komentar Bella adalah: You’re…beautiful. Dan Edward remarked: Beautiful? This is the body of a killer Bella!

Ya, gitu deh. Tapi overall, aku suka, buktinya, masih suka nonton bolak-balik.

Adegan di sekolah juga ok. Normal. Kecuali, suasana mendung, gelap, dan berawan yang meliputinya. Yaaa cocok lah, kan filmnya tentang vampir.

Menjebak sekali, kirain yang ngelakuin pembunuhan-pembunuhan itu Edward dan keluarganya. Ternyataaa… :P

Tapi konflik antara the Cullens dan kelompok James kurang seru. Begitu juga dengan kelompok Quilet (ah lupa namanya) yang descendant dari serigala. Kurang runcing, kurang dalem. Mungkin aja ntar di-sequelnya diperdalam lagi (jiaah, pe de bgt bakal ada sequelnya, ehehehe).

Soundtracknya bagus-bagus. Cocok lah dengan scene-scene yang diiringi.
Berapa bintang ya enaknya? Mungkin, hmm, empat bintang deh, hehe.

Nah, pertanyaan yang cukup menggangguku setelah film nya berakhir adalah: ada novelnya ga sih Twilight ini? Aku pengeeen banget baca. Pasti lebih seru kalo baca bukunya langsung dong?!

Nah, yang belom nonton, yang suka drama, yang suka misteri, tonton lah…
Yang emak-emak, jangan kelupaan masak n ngemong anak loh kalo nonton, ehehe

Posted by: wulynne | September 5, 2009

O’ouw..Jantungku!

Wah, ternyata beneran sakit jantung aku. Innalillah. Astaghfirullah, ampuni dosa-dosaku Allah, Yang Maha Pengampun. Kalau sakitku ini karena dosaku besar atau kecilnya, mohon diampuni. Beri aku kekuatan untuk mengubah kebiasaan suka ngomel dan emosi, ngontrol makananku, dan lainnya yang bikin aku sakit ini ya (begging Your mercy).

Harus kontrol makanan nih. Browsing. Bertanya pada dunia (di internet) tentang sakit nyeri di dada kiri yang tembus sampai ke punggung ini membawaku belajar tentang angina pektoris. Begitulah nama sakit yang kusandang saat ini. Keren namanya ya. Tapi ga keren blas rasa sakitnya . Huh.

Rekor baru, setelah dulu sempet hipertensi/darah tinggi pas lagi hamil. Kontrol emosi lagi dol nih. Akhir-akhir ini memang suka ngomel dan menghela napas panjang, apalagi kalau si ayah dan sang anak lagi perang mulut, latihan argumentasi gitu kalo maksa dikasi istilah positif (yee). Aku biasanya langsung memelototin mata ke kedua pihak supaya gencatan senjata aja.

Makanan? Dengan alasan lagi nyusuin si Salman (5,5 bulan), aku makan aja semua, santan, kolak, sate, sayur, kacang panjang, kangkung, brokoli, ayam bakar, ikan bakar, kepiting, cumi, udang, telor, jeroan, susu prenagen (halah, kok jadi ngiler gini, slurrpp). Demi sang anak gitu. Plus minim olahraga bangt. Udah dua or tiga bulan ini ga pernah lagi senam. Biasanya sih sempetin senama 2 or 3 hari sekali. Di rumah, pake video panduan senam.

Jadi, ini rupanya hasilnya. Panen. Panen penyakit. Astaghfirullah.

Ga pernah sangka bakal kena sakit jantung. Aku termasuk yang over PD dengan kesehatan badanku. aling sakitnya, sakit kepala, flu, wis pokoke yang remeh temeh gitu. Agak shock juga nih, ngerasain jadi pesakitan penyakit serius gini.

Kebanyakan ngomel, ndengerin omelan, ngeliat ga bener dikit rasanya udah gatel nih tangan dan mulut buat mbenerin. Itu sebenernya masuk kategori dosa. Dosa kecil sih, bukan dosa besar, sama sekali bukan. Tapi, tetap aja dosa. Nambah-nambahin beratnya timbangan amal jelek. Ugh!

Sekarang rasain dweh. Mau narik napas panjang aja, langsung ostosmastis ngeryitin dahi.

Sekarang sih, mau makan aja mikir dua kali: Ni makanan boleh gak ya? Minyak, santan, jeroan, gorengan, kepiting dkk tadi ga boleh dulu. Wah, jadi berniat mbetulin program olahraga dan makan banget nih, demi bisa makan enak lagi. Halaah. Yaa, separo jujur tuh. Yang jelas, ngga pengen lah ngerasain sakit gini.

Semoga… semogaaa aja bisa istiqamah jalanin yang harus dijalanin. Allah, tolong aku ya. Aku lemah nih tanpaMu.

Posted by: wulynne | September 4, 2009

Hajar Terus Sampai…Tiit! Alarm pun Menjerit

@Metamorphian: untung cepat lapor di sini ….SUDAH PASTI itu gejala koroner tuh…ada penyempita pembuluh darah…tapi nampaknya masih bisa ditolerir…. segera periksa dokter deh…. kalaupun belum …jaga diri jangan sampai bener benar jalan darah tersumbat, yaitu dengan :
- istirahat cukup…
- gerak badan ringan yg disengaja…sedikit sedikit ya…
- kalau puasa, teruskan dulu ..tapi jangan cape cape dulu….
- pas buka minum air putih saja dulu 2-3 gelas perlahan lahan (stop dulu kolak kolakan/kue kue..dsb)
- jangan makan nasi dulu….+ kurma boleh ..jangan banyak banyak dulu..
- setelah itu minum air teh hangat -tanpa gula ya ..kental boleh…
- istirahat sebentar (shalat dll, jalan dikit)
- usahakan pengganti makannya …buah dulu saja….
- sahur bisa pake havermut saja + buah buahan (pisang, mangga, pepaya dan sejenisnya)

setelah itu buat program ..untuk meredam kenaikan kolesterol dalam tubuh…..
(saya 1998, telah divonis “koroner” pada general chek up..setelah itu mulai deh merubah gaya makan minum, dan lumayan sekarang jarang kerasa ‘gatel di bagian dada kiri” lagi…pusing dan pegal pegal pun jarang….tapi yaitu tadi syaratnya harus atur intake makana minumanya….ya lebih enak lah daripada harus dioperasi atau pasang 2 – 3 ring…)

Semoga bisa membantu…..

**
Malam tadi daku terbangun dengan sangat tidak nyaman. Dada kiri terasa ngilu/linu sampai rasanya tembus ke punggung. Buat aku yang sampe saat ini selalu pe de dengan kesehatan badanku, ini sebuah shock yang lumayan. Aku diemin aja lah, kupikir mungkin besok pagi dah ilang sakitnya. Aku lentur-lenturkan badan ke kanan dan ke kiri. Tapi ternyata, terlalu sakit ke kirinya. Hhh. Ya sudahlah. Aku tidur lagi.

Paginya, ternyata awet sakitnya. Duduk depan internet, aku meluncur cari-cari info dengan keyword: sakit dada kiri tembus ke punggung. Yang banyak muncul malah iklan agen kalung kesehatan biofir kalo ga salah. Ya sudahlah, santai aja aku fesbukan, ketemu temen-temen ditimpali suami tercinta,”Nda, kok fesbukan terus, ga sakit matanya?” Katanya dengan penuh “cinta”.

Eh ada mba IMul posting, tergelitik pengen reply juga nih. Sambil klik di poto mba IMul sambil lirik2 rumah fesbuk beliau, ooo ada alamat blognya, aku klik juga deh. Eh, ternyata blog, anaknya. Tapi ada link ke blog mbak IMul juga tuh. Klik aah.

Waah, keren blognya. Banyak nulisnya. Aktif juga yak. Nah, itu ada tulisan bahasa asing? Angina Pectoris…Angin duduk. Baca aah…

Seru juga. Ah jadi kepikir pengen konsul deh. Jadilah daku konsul ke mbak IMul tentang sakit ngilu dada ini. Eh ternyata yang balesin kang odex yang komen sebelumnya. Yaa seperti aku copas di atas itu nasihatnya.

Reaksiku? Kaget. Iya lah. Ini aja nulis sambil manasin air mo bikinteh kental. Walah, manis juga ga boleh. Santan pasti ga boleh deh.

Sebelum ini aku santai aja, semua kumakan. Kagak pake pantang-pantangan. Hajar saja semua. Mana lagi nyusuin gini. Gak peduli berat badan naik yang penting ASI lancar, dede kenyang.

Eh, sekarang… nasi pun ga boleh…waduuh.

Alhamdulillah siih, ga langsung dicabut ijin hidupku sama Allah. Masih dikasih warning. Alarm yang di dada kiri sampe punggung yang dibunyiin. Alhamdulillah, ga langsung meledak. Ngeri juga kan, kalo harus dipasang ring (baru tahu juha nih kalo yang error kudu dipasang ring). Hiiy.

Semoga tekad ini bisa istiqamah dijalanin. Amin.

Posted by: wulynne | September 2, 2009

Gempa di FB

Jantungku bergetar, agak sedikit sakit. Membaca status facebook teman-teman kemaren saat dan agak pasca gempa di Tasikmalaya itu. Mungkin masih jauh dari tingkatan itsar (mendahulukan kepentingan orang lain daripada diriku), tapi memang baru empati yang bisa kurasa.

Skala 7,3 Richter. MasyaaAllah. Itu kan hampir sama dengan gempa dalam laut yang bikin tsunami di Aceh dan sekitar dulu.

Yang kupikirkan kemaren sambil terus mantengin facebook dan situs berita aktual macam detik.com, juga setel tivi (metro tv) keras-keras, adalah: apakah benar-benar akan terjadi lagi tsunami? Gelombang yang timbul dari guncangan lempeng bumi di dasar laut itu.

Alhamdulillah, setengah jam berikutnya peringatan bahaya tsunami dicabut oleh BMG. Alhamdulillah. Apa jadi kalau beneran tsunami itu datang. Bisa jadi separo teman-teman di facebook aku hilang. Na’udzubillah.

Saking gede getar gempanya, menurut temen-temen siih, banyak yang langsung merasa pusing. Lha di tivi ada dibilang gedung berlantai belasan nampak bergoyang kanan kiri.

Ngeri!

Kebayang kalo aku yang harus ngalami sendiri. What would I do? Mungkin…aku bakal ngambil Aysar dan Salman dulu, bawa keluar rumah. Kalo ga keburu, mungkin akan berdiri di pintu kamar. Atau berlindung di bawah meja ya? Haduw, mana bahan genteng sekarang kan berat gitu. Balok-balok kayu penyangga atap juga. Ngeri, sungguh!

Di atas semuanya, yang paling penting minta perlindungan pada Yang Kuasa. Banyak nyebut tahlil dsb. Jangan lupa cepet shalat, karena kejadiannya kemaren pas shalat Ashar :)

Daku posting: semoga temen2 yang di Jakarta, Bandung, dan sekitarnya baek2 saja. Postingan berikutnya: yang belum shalat Ashar, cepetan.

Beberapa menit berikutnya baru di-reply ma temen2 yang disana. Mungkin masih shock mereka. Ada juga yang jawabnya jujur banget (jadi geli ngingatnya niih): Hehe iya mbak, tadi langsung inget masjid. Kurang tahu juga aku, apa maksudnya mo berlindung di masjid, apa mo shalat Ashar, hihi.

Yang jelas, paling banyak postingan refleksi diri. Pasrah dan takut bercampur jadi satu. Nilai-nilai bijak mulai mendominasi banyak teman saat itu. Walopun sebelumnya juga udah bijak :)

Ada satu yang lucu, postingan mba sita (salah satu moderator milis pembacaasmanadia), kira-kira begini, reporting temennya dia yang pemain biola: begitu gempa, mamaku teriak = faaaa, BIOLAAA!! pikir-pikir untung aku bukan pemain piano.

Bagus juga sih ada postingan lucu gitu, itung-itung ngendorin saraf yang tegang.

Kalo Anda baca ini, daku saranin join juga di milis ini, mencerdaskan, dan mengendorkan saraf tegang disini. Sambil blajar nulis, sharing, dan lain-lain. Bisa curhat juga. Karena temen-temen disini semuanya baek-baek, insyaaAllah. Kalopun ada yang error ya dimaklumi, mungkin lagi ‘dapet’ hehe.

Ah, syukur alhamdulillah semua baek-baek saja. Ga jadi tsunami. Walopun, ya, ada juga berita dukanya: 15 orang yang sudah ditemukan meninggal, innalillahi wa inna ilaihi raji’uun.Sesungguhnya kita semua milik Allah dan hanya kepada Allah lah kita kembali. Masa sih, yang punya ga boleh ngambil lagi miliknya…Ikhlas memang sulit, tapi mo gimana lagi kan? :)

Posted by: wulynne | August 29, 2009

Dan Kekasihnya pun Pergi

Semalam, Pak Harun datang berpamitan. Bu Harun pun menemaninya. Mereka datang ke rumah-rumah kami para tetangganya. Ke Palembang, katanya. Bu Harun terlihat mengusap matanya. Menangisi kepergian suaminya.

Setahu saya, selama ini, 4 tahun ini, Pak Harun selalu berada bersama keluarga kecilnya. Beliau, istrinya, dan dua anak laki-laki yang sekarang ini duduk di kelas satu dan dua sekolah dasar. Jadi sangatlah wajar bila kepindahan suaminya membuat Bu Harun sedih.

Pak Harun bekerja di sebuah perusahaan angkutan publik. Kapal yang setiap kali menyeberangkan para penumpang di selat Madura. Ya. Ini memang sebuah dampak dari dibangun dan diresmikannya jembatan Suramadu.

Kapal-kapal sekarang ini kerap kali sepi penumpang. Bila biasanya kami naik kapal harus menunggu seperempat jam sampai kapal berangkat, kini bisa sampai dua jam bahkan lebih untuk berangkat.

Sebuah kebijakan yang harus diambil perusahaan kapal-kapal itu agar mereka tak jatuh bangkrut. Perampingan karyawan pun dilakukan. Entah berapa banyak karyawan yang harus pergi meninggalkan keluarganya di Kamal dan sekitarnya.

Apa yang akan terjadi dengan Bu Harun? Dan Ujang, juga kakaknya Gandi? Toko kelontongnya mungkin akan terus buka. Semoga. Tapi bagaimana dengan perkembangan anak-anak? Anak tanpa figur seorang ayah di sampingnya tentu akan berbeda perkembangannya, bukan?

Keseharian Ujang dan Gandi yang penuh dengan bentakan tak sabar dari kedua orang tuanya sudah cukup membuat kami para tetangga menghela napas. Salah tingkah, mau mengingatkan, tapi kok…rasanya mereka kurang welcome.

Padahal sang ibu pernah menuntut ilmu di PGTK. Tapi tentu kurang praktek kalau ilmu yang didapat hanya berhenti di kognitif saja. Hanya sebagai data saja.

Apalagi sekarang saat sang ayah pergi jauh. Lebaran pun tak pulang. Mungkin untuk menghemat ongkos. Berapa lah gaji karyawan bawahan dari perusahaan kapal? Mungkin setahun sekali baru akan pulang.

Kalau perginya lama, apakah Bu Harun akan semakin sering membentak anak-anaknya karena habis kesabarannya -apalagi tak ada partner yang membantunya? Padahal dengan cara yang selama ini beliau terapkan pada kedua bersaudara itu, sudah nampak keras watak Ujang dan Gandi terbentuk olehnya. Nampak pula dari cara mereka bergaul dengan anak-anak lain di komplek: keras dan ringan tangan.

Walau pun dengan adanya Pak Harun watak mereka juga tetap keras, tapi tetap saja, keberadaan seorang ayah tentu akan lebih baik bagi mereka. Apalagi bagi anak laki-laki, ayah adalah sosok yang dijadikan panutan. Menjadi kebanggaan. Sekeras apapun wataknya. Sekasar apapun perlakuannya.

Menjadi penting bagi kita, orang tua, untuk selalu berpikir dua kali (atau lebih) dalam berbicara dan bertindak pada anak-anak kita. Karena begitu mudah mereka meniru kita. Mereka bagai mesin fotokopi kita. Kalau kita ingin tahu watak sebenarnya dari sepasang orang tua, kita bisa melihatnya dengan jelas pada anak-anaknya.

Anak yang berani dan mudah berkomentar, biasanya menunjukkan tipe orang tuanya yang demokratis. Anak yang suka memanfaatkan temannya, bisa jadi dia belajar skill yang kurang positif itu dari orang tuanya. Anak yang suka bergosip, bisa dipastikan, orang tuanya pun suka sekali bergosip ria. Anak yang suka menyanyikan lagu “Tak gendong”? Belum tentu orang tuanya suka lagu itu. Bisa jadi dia mendengar dari pengamen yang sering lewat depan rumahnya.

Ya. Memang semua itu bukan parameter yang pasti. Tapi kadang banyak terjadi. Jadi, menjadi orang tua memang tidak mudah. Sayangnya belum ada sekolah untuk menjadi orang tua. Kalaupun ada, mungkin masih mahal dan bentuknya masih eksklusif dalam pelatihan-pelatihan yang pesertanya dari kalangan yang memang sadar pendidikan saja. Orang-orang yang sadar pentingnya ilmu, tapi masih sering juga lepas kontrol emosinya dalam mendidik anak. Apalagi orang-orang seperti Pak dan Bu Harun ini.

Ah, semoga Bu Harun bisa menjadi ibu yang lebih baik lagi bagi Ujang dan Gandi, walaupun Pak Harun tak disisinya sementara ini. Semoga Pak Harun pun bisa lebih menyayangi keluarganya, karena biasanya orang baru bisa merasakan hal yang berharga saat mereka jauh. Sedangkan saat dekat justru tak merasa sesuatu itu berharga.

Mungkin skenario Allah untuk keluarga Harun ini akan memberikan kebaikan bagi mereka. Amin.

Posted by: wulynne | August 27, 2009

Bikin Film Pake Windows Movie Maker Yuuk ^-^

Alhamdulillah. Hari ini kelar bikin film. Ahaay, daku udah bisa niy jadi produser, camera person, editor, narrator, apa lagi yaa…contributor …hehe. Tapi masih amatiraaan. Ya dong amatir, kan baru belajar jadi hasilnya jauh dari editan Lord of the Rings (walah… nekat banget ya, bandingin diri ama yang sekaliber itu kikiki).

Waktu merekam setiap kejadiannya, kebetulan yang di-edit tadi momen Reuni Akbar Mantan UAKI Unibraw tahun lalu (haah? Dan baru diedit sekarang?? ahaha), enaak aja kita pencat pencet tombol aja. Tiap ada momen, rekam, ada yang lucu, rekam, ada yang aneh, rekam. Pokoknya seneeng aja ngrekamnya. Giliran ngedit. Whuus!

Ngedit itu ternyata: repot! Ngedit dalam semua bentuk pastinya. Termasuk ngedit buku ya (jadi lebih simpati dan empati pada pada book editor niy).

Kalo ngedit movie, pertamanya kita kudu transfer dulu itu film dari kasetnya yang di dalam handycam atau kamera lain. Kalo daku pake Windows Movie Maker dari microsoft, buat pribadi tapinya siiy (katanya kan kalo buat berdagang harus beli licence dulu dari pabriknya microsoft kaan).

Ini niy caranya:

Buka dulu program windows movie maker, trus pilih capture from video device.

Pilih yang manual aja, jangan yang automatic, jadi ntar kita bisa milih sendiri mana-mana adegan yang mau di-capture. Yang jelek-jelek ga perlu diambil kalee. Tapi kadang kita pengen ambil semua adegan siy, kan dibuang sayang.

Yang sabar ya, soalnya ini jenis kegiatan yang takes time (Aysar aja harus bersabar karena bunda pake komputer dia, harus nahan diri ga nonton and nge-games dulu doi, hihi)

Naah kalo udah kelar capture video, kita drag satu-per satu fragmen-fragmen video (tuh program otomatis bagi-bagi isi video jadi fragmen-fragmen) ke panel di bawah yang disediakan untuk bikin film.

Nah kalo udah di-drag semua, kita bisa kasih title di bagian manapun yang kita mau. Misal di awal film kita kasi tulisan judul: Reuni Mantan Penuh Cinta (misaaal ini) atau Romansa Reuni (duilee, ini juga misaaal). Ntar di tengah pun kita bisa kasi komen-komen kita untuk adegan-adegan tertentu. Gituu terus sampe akhir film.

Nah di akhir film, kita bisa kasi credits. Ituu yang biasanya ada di film-film. Misal nama sutradaranya, castingnya oleh siapa, siapa saja pemerannya, settingnya dimana aja, soundtracknya apa aja, dan lain-lain.

Eh jadi inget, kita juga bisa masukin audio misalnya untk backsoundnya, kasi lagu. Tahun lalu pernah daku iseng ngeliput kegiatan agustusan di komplek kami, lomba-lomba, karnaval, jalan sehat dan lain-lain, daku edit and tambahin lagu perjuangan, ada Indonesia Raya, Maju Tak Gentar, juga tak lupa dengan sengaja daku tambahin pidato Bung Tomo yang menggebu-gebu.

Tapi kalo momennya reunian ya daku kasi lagu yang sendu dan romantis dong, biar lebih menyentuh (jiaaahhh!). Daku tambah dan selipin instrument De Bussy: Clair de Lune Walopun ga tau itu artinya apa, pokoknya lagunya wenak banget, terutama buat tidur, jadi hajar saja heheh. Lho kok? Iya soalnya adegannya pas malem siiy, kan pas gitu. Lalu ada My Ummah-nya Sami Yusuf, ada Tekad Perjuangannya Shoutul Harokah, ada Splish Splash-nya Bobby Darin, Remember-nya Harry Nillson, Dream-nya Roy Orbison, I’m Gonna Sit Right Down-nya siapa ya..lupa niy…hehe.

Anywaaay, ini mo bikin panduan bikin film atau presentasi lagu siiiy ah!

Ya udah. Abis nambah-nambahin lagu-lagu. Kita liat n denger lagi itu film. Kalo masih ada yang kurang tambah lagi. Kalo ada yang lebay, kurangi lagi…Ya laaah, namanya juga ngedit gitu loh!

And theen…

Kalo dah siip, kita save. Ada beberapa pilihan, terserah kita maunya ngesave model apa. Kalo daku siy, save in my computer aja. Pilihan lainnya: save in CD, save in email…dan sebagainya.

Naah, setelah di-klik model saving yang mana yang dimauin (beuh, bahasanya rek), harus sabar lagi, karena panjang filmku yang ga ada satu jam aja butuh waktu hampir dua jam untuk nge-save ke file, jadi saran untuk yang pake laptop, notebook, netbook, dll harus siap-siap and aware pas baterenya udah kritis. Atau pake PC aja lah dari awal.

Setelah selesai semua baru deh di burn ke vcd kosong atau up-load ke internet buat temen-temen.

Wis gitu aja sharing bikin film kali ini. Met nyobain ya. Good Luck!

Posted by: wulynne | August 27, 2009

Lomba Nulis Diperpanjang, Horee!

Dani Ardiansyah August 27 at 11:43am Reply
Assalamualaikum Wr Wb..

Member indie.. apa kabar? Wish u all the best! FYI:

Kabar gembira! Lomba menulis Esai ala Chicken Soup diperpanjaaang. Buat kamu yang belum ikutan atau belum sempat nulis, jangan sedih, karena edumuslim memberikan kesempatan sekali lagi.

Ayoo buruan ikutan lombanya!!!Info lengkap ada di:

http://edumuslim.org/index.php?godbpage=lomba

Boleh disebarkan kok:)

Terimakasih,

http://www.facebook.com/catatankecil?ref=name#/group.php?gid=104360062723&ref=ts

Posted by: wulynne | November 26, 2008

Merasalah Berdosa

Saat-saat ketika terasa sulit sekali shalat malam,
Jangankan shalat malam, bangun malam untuk shalat saja sudah perjuangan banget.
Jangankan shalat malam atau bangun malam,
Untuk shalat fardhu saja,
sungguh harus memaksakan kaki untuk melangkah ambil wudhu.
Apalagi Read More…

Posted by: wulynne | November 26, 2008

Too Much Love will Kill You

Tau lagu ini kan..lagunya Quenn kalo ga salah.
Too much love will kill you
If you can’t make up your mind

Naah, saat ini aku lagi ngalaminnya, tapi lovenya diganti bakso and mie instan.
Ya. Jadinya:
Too much bakso n mie will kill you
If you can’t stop eating them
Read More…

Older Posts »

Categories