Saat-saat ketika terasa sulit sekali shalat malam,
Jangankan shalat malam, bangun malam untuk shalat saja sudah perjuangan banget.
Jangankan shalat malam atau bangun malam,
Untuk shalat fardhu saja,
sungguh harus memaksakan kaki untuk melangkah ambil wudhu.
Apalagi (more…)
Tau lagu ini kan..lagunya Quenn kalo ga salah.
Too much love will kill you
If you can’t make up your mind
Naah, saat ini aku lagi ngalaminnya, tapi lovenya diganti bakso and mie instan.
Ya. Jadinya:
Too much bakso n mie will kill you
If you can’t stop eating them
(more…)
Pernahkan anda kecewa membaca film yang anda sudah baca bukunya? Saya sering. Kalo kecewa membaca buku setelah lihat filmnya? Saya jarang.
Kenapa ya, membaca bukunya selalu membuat imajinasi kita lebih berkembang. Pas baca novel2 Harry Potter tak bayangin bangunannya, kelamnya suasana, jahatnya ekspresi sang terkutuk, lucunya, enaknya makanan, semua hal itu berloncatan di pikiran. Seru, dinamis, atraktif. Atau pas baca novel Eric Segal, yang manapun, wah, seru banget. Da vinci code, makin seru, karena imajinasi makin terpancing oleh kepiawaian penulisnya.
Tapi, pas filmnya mulai edar, jadi kecewa banget, nggak seperti bayangan. Imajinasiku jauh lebih seru.
Kecuali satu film, trilogi Lord of the Ring. Karena bukunya nyastra buanget dan puanjang, yang akhirnya malah bikin bosan, mungkin. Mungkin juga karena udah nonton filmnya duluan, dan emang buagus sih. Settingnya, subhanallah, uindah (saking indahnya jadi uuuuindaaah). Karakterisasi pemerannya woke punya. Drama banget. Bahasanya enak didenger. Actionnya seru. Animasinya juga woke (saking oke-nya jadi wuuuoke).
Kalo Laskar Pelangi nanti gimana ya? Belom nonton sih soalnya. Kalo yang senagkatan sama LP, yaitu AAC (Ayat-ayat Cinta)…mengecewakan sekali. Jauh dari bayangan. Walaupun pemeran2nya good looking.
Sejauh ini, membaca buku tetap lebih memuaskan daripada nonton. Sekarang ni lagi suka nonton Heroes season 2 yang tayang di trans7. Mungkin kalo ada novelnya, aku akan lebih suka novelnya. Mungkin lhoo, mungkin….
Filed under: Uncategorized
“Dan jika seorang perempuan khawatir suaminya akan nusyuz atau bersikap tak acuh, maka keduanya dapat mengadakan perdamaian yang sebenarnya dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu memperbaiki (pergaulan dengan istrimu) dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” Annisaa’ ayat 128. (more…)
Beberapa waktu yang lalu aku pernah menulis tentang saat-saat tenang menjelang tidur. Saat kita membebaskan diri, merilekskan badan dan otak. Saat itulah sering muncul kenangan masa lalu yang kadang bisa buat aku tersenyum lagi karenanya.
Salah satu kenangan itu muncul. Dari bawah sadar. Mungkin karena terlalu banyak diskusi tentang poligami ^-^ sehingga memori yang ini terdorong ke permukaan. Padahal aku sendiri sudah hampir lupa. (more…)
Qur’an Surat Ali Imran ayat 186:
“Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”
Subhanallah. Maha benar Allah.
Sungguh benar, tepat sekali seperti yang Allah sampaikan dalam surat cintaNya pada kita ini.
Walaupun yang kualami dan kurasakan bukan dari ‘orang-orang yang diberi kitab sebelummu’ tapi justru dari saudara seiman yang ‘masih’ musyrik. (Catatan: bukankah kalau musyrik berarti beda aqidah dengan muslim?)
Mungkin pembaca masih ingat dengan ‘Si Pembawa Kayu Bakar’? Dalam tulisan itu saya menceritakan tentang permusuhan para tetangga di kompleks perumahan kami. Parah sekali. Sampai mereka menggunakan jasa dukun/paranormal/’kyai’ untuk menguatkan imej dan kedudukan mereka di mata penghuni komplek. Hampir merata sebenarnya. Banyak di antara warga yang selalu memakai jasa ‘kyai’ untuk masalah-masalah yang mengganggu. Setiap keluarga mempunyai ‘kyai’ andalan masing-masing.
Nah, pernah satu kali kejadian yang saya menjadi saksi langsung, membuat saya disodori dan disuruh minum air putih yang sudah dibawa ke ‘kyai’. Padahal sesaat sesudah kejadian kami sempat menegur korban –yang juga korban fitnah si pembawa kayu bakar- jangan sampai pake ‘kyai’ hanya karena uang 3 juta hilang, yang sebenarnya –menurut saya- kemalingan itu terjadi karena kecerobohan si korban sendiri. Tapi ternyata ke ‘kyai’ juga.
Akhirnya, di depan pintu rumah, kami katakan pada beliau ‘maaf Bu, untuk yang ini saya nggak bisa bantu karena datang ke ‘orang pinter’ itu dosa besar, syirik, menyekutukan Allah’.
Tentu saja setelah itu marahlah si tetangga. Hubungan kami tidak bisa dekat setelahnya.
Tapi yang saya sesalkan, sering fitnah mampir ke telinga, yang bersumber dari mereka yang nggak suka dengan kebenaran yang disampaikan. Macam-macam saja fitnahnya. Dari ngomongin jilbab, hadiah buku (dan bukan uang, meskipun buku lebih berharga), uang arisan dasawisma, pokoknya apapun bisa dibikin fitnahnya (Teman saya Nur Hansah mungkin akan senyum dan berkata ‘Yeh, lokalit banget sih Wul’).
Yah, memang resiko berdakwah dalam komplek perumahan. Awalnya kami berusaha dekat dengan setiap orang. Tapi banyak kejadian yang mengajari kami untuk bersikap ala kadarnya. Proposional.
Tapi bukankah memang sebaiknya kita berteman dengan siapapun sebaiknya tidak berlebihan? Seringkali teman bisa jadi musuh, musuh bisa jadi teman. Itu pula yang terjadi di komplek kami. Dan itu cukup membuat saya bertetangga ‘sekedarnya’. Kalo ada yang curhat yaaa didengarkan dengan baik, kalo bisa bantu cari solusi.
Orang-orang yang masih musyrik ini, entah mengapa walaupun mereka rajin ke mushola tapi sulit menerima kenyataan bahwa ke ‘kyai’ itu musyrik. Sifat norok bunteknya (bener nggak ngeja-nya?) membuat jalan dakwah agak terjal dikit. To some extend, dakwah ke masyarakat yang demikian lebih sulit daripada dakwah kampus. Kalangan akademisi -to some extend- lebih terbuka untuk memikirkan dan menerima pengetahuan dan tantangan baru.
Memang, ini semua terjadi dan seperti yang Allah sampaikan denga penuh cinta: bersabarlah dan bertaqwalah, semua ini adalah ujian.
| Oh, Baby Blues… | Oct 20, ‘08 5:56 PM for everyone |
| Category: | Books |
| Genre: | Health, Mind & Body |
| Author: | Dina Suleman dan Mamik ….(lupa) |
Baby blues, paling banyak karena pengaruh hormonal. Hormon yang terbentuk saat kehamilan mulai menghilang (padahal tubuh wanita mulai nyaman dengannya). Penyesuaian yang cukup menyiksa terjadi lagi. Menyiksa?
Yaa, kalo cuma perubahan psikis aja, mungkin ga akan seberat itu. Tapi si ibu kan abis melahirkan. Ngejan segitu rupa, jahitan yang masih nyut-nyutan, payudara bengkak dan meriangnya terasa di badan, ‘ngerangsemi’ kata orang Jawa, bikin demam setiap saat. Belom lagi tantangan ngurus si bayi yang masih kurus keriput, belum terlihat chubby sama sekali. Bahkan ada ibu yang kehilangan kesabaran dan akalnya karena baby blues ini, dia bisa membuang bayinya sendiri. Membenci bayinya sendiri. Merasa penderitaannya, fisik psikis de el el adalah karena bayinya.
Ada juga dilampiaskan secara unbelievable pada yang bikin dia hamil (suaminya donk, emang siapa lagi?!). Sampai suami juga ikutan stres.
Watch out! Baby blues yg berlanjut terus….bisa jadi post partum depression syndrom.
Kayak aku dulu, pas anak pertama. Karena ketidaktauanku terhadap sindrom baby blues, keterusan, jadi opname lagi setelah melahirkan. Wuih heboh! Sampe ngerepotin seluruh keluarga. Cucu pertama sih, and ga baca tentang sindrom ini sama sekali.
Alhamdulillah ada buku ini. Sungguh membantu wanita dan keluarga memahami dirinya. Pemahaman terhadap hal ini aja akan membuat perbedaan dalam menerima hal yang sungguh wajar terjadi pada setiap ibu yang melahirkan ini.
Filed under: Uncategorized | Tags: Ghibah, Ijtima'iy, Kemasyarakatan, Namimah, Pembawa Kayu Bakar
Astaghfirullah. Ada ya orang yang kayak gitu. Kirain cuma ada di sinetron doank. Jahat banget. Kesana-sini kerjanya fitnah orang lain. Di cros-cek ke semua orang omongannya kok nggak ada yang bener atau paling tidak sama dikit-lah. Ck ck! Na’udzubillah min dzalik.
Yah, episod inilah yang saat ini sedang kujalani. Ternyata penyakit yang (more…)
Yah, dengan kondisi fisik yang sedang njalani takdir hamil muda, akhirnya insyaAllah Ramadhan 1430 H (bener tah?) nggak ikutan puasa, mungkin dua tahun ke depan juga akan sama. Kan bakal melahirkan dan menyusui….
Aku yang biasanya maen ma anak2 komplek, physically aktif, basket dsb., sekarang jalan-jalan sore ma Aysar aja sampe harus duduk di lapangan rumput sebelum acara jalan-jalan (sambil belajar biologi pre-school) selesai. Weleh, exhausted bgt!
Alhamdulillah, betapa Allah sangat pengertian dengan kondisi yang sangat kodrati ini.
Minggu-minggu pertama yang sangat sulit (kaget dengan hamilku ini), tiap hari serasa nggak enak badan, tiap hari serasa masuk angin….kondisi yang bener2 nggak nrimo, nggak ikhlas blas, banyak nresulo. Ck!
Alhamdulillah sekarang dah ok, masih mual, tapi dah nrimo.
Dapat tips dari dokter, sering ngemil aja, sering makan 2 jam sekali tapi jangan terlalu banyak. Kalo dipikir bener juga, kan kondisinya kayak orang lagi sakit maag, jadi treatmentnya juga mirip. Asam lambungnya….weleh bener2 deh.
Ada lagi keluhan lain: sakit kepala. Waduh kalo ini sih ngganggu bgt. Akhirnya kubekam aja sendiri, walaupun sebenarnya nggak boleh kalo hamil trimester pertama dibekam. Tapi daripada minum obat sakit kepala…sakitnya hilang (sementara)..tapi gumpalan darah beku yang nyumbat di dalam pelipis n blakang leher nggak ilang..nanti juga sakit lagi kan. Bekam is the solution! Buang ajah darah kotor itu kan irigasi darah (hiah! emang pertanian?!) jadi lancar n sakit kepala nggak lagi.
Oya, fidyah ya.
Aku sih bayar fidyahnya sesuai harga yang biasa kumakan, mengenyangkan, tiga kali makan untuk satu fakir miskin. Di halaqoh, kemaren dibahas, dibayarkannya saat kita sedang tidak berpuasa itu, tapi ada juga yang diakhirkan. Mungkin biar bayarnya sekalian sebulan, gitu.
Allahuma baariklanaa fii sya’ban wa balighna ramadhan. Amin.
Filed under: AROUND US, CULTURE, LIFE MUST GO ON | Tags: Add new tag, MERDEKA
Ck, hajatan nasional katanya. Syukuran kemerdekaan tahun ke-63 katanya. Apanya yang merdeka? (more…)