Enak banget deh jadi ibu rumah tangga. Dan hanya ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga murni. Tidak terganggu rutinitas menjadi pekerja dan tidak memikirkan ini-itunya karir yang selalu menghantui pikiran pekerja. Apalagi kalau pekerja yang digaji orang. Wuih, capek deh mikir kenaikan karirnya…
Kalau ibu rumah tangga kan bisa santai. Mau bikin apapun tenggat waktunya dia sendiri yang menentukan. He he he. Gue banget deh!
Seperti sekarang ini nih, aku jadi sempet menulis. Wah, pokoknya bisa ngapain aja. Ngaji pun OK. Belum lagi bisa puas main sama geng krucilku di kompleks sini. Buah hatiku. Harapanku. Kangen banget sama mereka kalau lagi jauh. Mereka pun merasakan rindu yang sama padaku kalau lagi jauh. Baru pergi saja perwakilan mereka sudah kirim sms nanyain “Tantee kangen niih. Kapan pulangnya? Jangan lama-lama perginya yaa..please.” Aaah, jadi kepengin GR deh. He he he. ABG-ABG yang lucu and konyol banget. Aku sayang banget sama mereka, anak-anakku.
Silaturahim sama teman-teman jama’ah dakwah yang “berbeda”pun fleksibel. Tetap jalan terus. Kita memang beda. Jadi biar aja beda. Jarang banget kita ngglibet, muulek ngebahas hal-hal yang menjurus ke perbedaan kita, sehingga kita jadi jarang “bertengkar”. Yang ada, kita malah makin dekat and merasa “saudara” banget. Kalau lama nggak ketemu jadinya kangen banget. Aahh, indahnya ukhuwah.
Alhamdulillah Yaa Allah Yang Maha Penyayang yang mengkaruniakan perasaan cinta seperti yang kurasakan saat ini. Rasanya dada ini penuh sesak dengan aroma cinta dan sayang pada semua orang di sekitarku. Semua orang. Tak terkecuali. Termasuk ibu-ibu bermulut usil yang sudah menjadikanku korban fitnahnya di rukun tetangga kami. Haa? Kaget ya? Yup! Gini-gini pernah juga lho aku diujiNya dengan jadi korban fitnah. Tapi masih kalah lah dengan ujiannya Pak Gymnastiar. Masih kalah heboh. Beliau kan tingkat nasional, lha aku kan masih tingkat lokal, he he he. Begitulah, memang Allah nggak pernah salah menakar kemampuan hambaNya dalam mengujiNya. Pun dalam hal lainnya, misal nakar rizqinya, atau apa pun deh. Jadi…waktu awal-awalnya diuji dengan fitnah itu, sebenarnya aku lemah juga. Nangis beberapa hari sedih banget karena orang yang kusayangi, yang sudah kuanggap sebagai pengganti orang tuaku di bumi rantau ini bisa setega itu bikin berita palsu tentangku. Aku memang lemah kalau berurusan dengan orang-orang yang sudah dekat di hati. Sebel, kesel hatiku karena beliau. Bahkan aku sempet ngerasain yang namanya dendam kesumat, wuih, sampai nggak pengen ngeliat beliau apalagi nyapa or negur, males banget. Muak lah ya. Ck, pokoknya bikin hatiku rusuh banget deh. Tapi, lama-lama aku pulih and sudah bisa mendoakan beliau lagi dalam shalat-shalatku.
Hmm, kalau sudah begini, aku jadi pengen merenung tentang Rasulullah saw. tersayang… Dada beliau saw. pasti lebih penuh sesak dengan warna pink, he he… cuma pengandaian –seandainya cinta and sayang itu dianggap pink. Dan pasti beliau saw. jauh lebih cinta pada ummatnya, jauh lebih pink dari apa yang kurasakan ini. Dan pastinya… Allah SWT pasti jauh-jauh-jauh lebiiiih sayang lagi pada kita makhlukNya. Nah kan… maka nikmat manakah yang kamu dustakan? Duh Allah, how can I ever thank You enough? My gratitude is so… so…. very few. It would never be enough. It’s just like a small peeble. Gitu kan kata lirik nasyidnya si ganteng alim Sami Yusuf, my younger brilliant brother in Islam. I am so proud of you, bro! Keep it up! I love you. Nasheed and web sitemu bikin aku nangis banget. You are so talented. All praise to Allah for creating a creature like you. MasyaaAllah.
Sekarang…gimana caranya aku kudu memenej banjir –tsunami kali lebih tepat—cinta di dada ini? Kalau aku diam and nggak keluarin, aku bakal “meledak” nih. O…people, please welcome and accept my pure love for you all!!!!!
But how should I do it? Well,… paling tidak aku sudah bisa membagikannya ke orang-orang disekitarku kan. Bekam and ruqyah memang bisa jadi sarana yang cukup efektif. Bikin kita bener-bener merasa bermanfaat untuk hidup orang. Tapi yah…untuk aktifitas tersebut memang kita harus punya kondisi badan yang bener-bener fit. Fisik, emosi, and spiritual.
Kalau badan lagi nggak fit gini sih…paling nyaman pakai metode hang-out aja. Yup, hang-out with the ganks. Hang-out dengan……:
Geng krucil di kompleks, OK.
Geng emak-emak PKK, OK.
Geng Kajian Islam, no problem.
Geng akhwat gaul, oki doki.
Geng medis, asal cuma hang-out aja nggak bakalan exhausted kan.
Geng internet, OK.
Geng sms-an, OK.
Geng travelling, OK (asal nggak bikin capek fisik).
Banyak lagi deh.
Geng yang manapun yang penting kita enjoy and bisa bermanfaat buat mereka. Bermanfaat secara fisik… boleh. Jadi konsultan and tempat curhat juga OK. Atau jadi pelabuhan spiritual…wuih…boljug bgt…(he he kebanyakan istilah deh ya). Kalau gengku tersayang baca ini pasti mereka komentar: walah ni anak kakehan istilah, kelincipen, atau semacam itulah… he he he…. love you all rek! (How r u all doin’?)
And yang penting lagi, aku nggak minta imbalan apapun kecuali dariNya. Kuingin…nanti “di sana” Dia bangga padaku, ridha padaku. Apalagi yang kuharap selain itu. Apa yang lebih dari itu. Nggak ada lagi kan. I’m pretty sure that it will be my ultimate pleasure. Higher than a pleased gratitude crying after making…ehm you know…with your beloved husband.
What? Surprised? Tidakkah kau pernah? Di buku-buku psikologi islami kan sering kali dibahas oleh ustad/ustadzah penulisnya bahwa kenikmatan puncak yang dirasakan sepasang manusia ketika memadu kasih itu hanyalah seujung kuku (atau seujung rambut yah?) gambaran kenikmatan dalam surga (mungkin masih surga yang paling dasar yah?). Yah bisa disebut nikmatnya surga dunia lah. Kadang kita bisa dibuat lupa daratan karenanya. Walaupun ada juga pasangan yang tidak bahagia dalam hal yang satu ini, mungkin karena kurang ilmunya, kurang baca, atau entahlah apa yang jadi masalah mereka. Kebanyakan pasangan sudah merasai fase surga dunia itu. Tapi apakah mereka juga merasakan fase kelezatan spiritual ibadah ketika itu? Kelezatan transendental saat making love. Entahlah. Aku sendiri belum banyak membaca buku yang membahas pengalaman orang-orang di maqam yang satu ini. Apa mungkin karena dianggap terlalu vulgar pembahasan masalah ini ya. Aahh, entahlah…Bagiku, tangisan syukur atas nikmat yang itu, hal itulah yang membuatnya terasa suci dan agung. Merasa terlimpahi dengan kasih sayangNya, kemurahanNya. Betapa Allah sangat menyayangiku hingga Dia izinkan aku merasai keberdaanNya ketika biasanya daratan saja bisa kami lupakan saking nikmatnya cinta. Maka…nikmat manakah yang kamu dustakan? All praises to You O Lord for the pleasure beyond the electricities upon us…
Mungkin orang akan berkomentar “Wuih aneh banget, em el aja nangis, emang sakit yah?!” Yah apa boleh buat. Kadang memang ada hal-hal yang abstrak yang sulit dijelaskan or digambarkan dengan kata-kata kan…Yang penting kan Allah Maha Tahu sampai dimana tingkat syukur kita.
Hmm, jadi mikir nih… kalau seorang aku yang hanya begini-begini saja merasa begitu indah dengan pengalaman ini, gimana dengan para shalihin ya? Apa yang mereka rasakan saat beribadah yang satu ini? Kelezatan transendental macam apa yang meliputi hati mereka? Keagungan apa yang mereka nikmati? Duh, jadi ngiri banget deh.
Aaahhh indahnya hidup ini, semoga mati nantipun indah. Juga setelah mati nanti. Boleh kan aku berharap gitu Tuhan?
Kalau suatu saat nanti bisa kerja formal jadi apapun (pengennya sih tetap berhubungan dengan education), kurasa itu juga pasti bisa bikin bahagia juga. I love living each second of my life. I feel so rich right now. Thanks Allah. Thanks for loving me. I love You…


Benci sama orang juga bisa jadi penyakit hati ya? Harus lbh sering sabar..
Salam kenal.
By: kniapril on June 22, 2008
at 8:33 am