Posted by: wulynne | April 20, 2008

Homeschooling, Rumah Belajar

Sampe sekarang aku belum masukin Aysar ke sekolah/playgroup manapun. Selalu ada rasa tak puas terhadap metode mengajar para ustadzah di sekolah. Wajar kan kalo bunda ingin anaknya dapat yang terbaik. Aku tahu ada tempat yang baik untuk anakku, tapi nyebrang pulau (kan aku di Madura, Sekolah Alam Insan Mulia kan di Surabaya, di Medokan Semampir sana). Belum lagi mahalnya. Sekali lagi wajar, karena kualitasnya sangat oke. Sedangkan di Madura, sekolah yang paling buagus sekalipun masih nampak sangat kurang di sreg dihatiku.
Aku pengen meng-home-schooling Aysar. Aku sangat yakin dengan kemampuanku (akademik, psychology, basic math, faith, prayers, psikomotorik, etc.). Tapi ada sedikit masalah di kakek-neneknya di Malang. Mereka mengkhawatirkan sosialisasinya akan kurang.
Menurut aku sih, sosialisasi Aysar nggak ada masalah. Di rumahpun, teman2nya di kompleks banyak berdatangan. Rumahku jadi semacam base camp buat anak-anak di kompleks sini –dari yang kecil imut-imut sampe yang remaja. Banyak ilmu digeluti mereka, tentu saja dengan bermain, kadang dengan serius juga. Banyak juga konflik yang terjadi antara mereka dan kurasa aku menanganinya dengan baik.
Khusus untuk Aysar, aku nggak ada masalah untuk lifeskill educationnya. Nggak ada masalah dengan attitude-nya. Kecuali satu hal kecil yang cukup merepotkanku. Manjanya padaku itu lho. Untuk mendisiplinkan dah oke. Tapi kalo lagi kumat manjanya…aku memang bukan tipe ibu yang keras tapi aku cukup bisa tegas kurasa.
Well, I am a learning mother. A life time learning. But don’t ever think that this itty bitty problem will hold me back to homeschool my son (and his bros n sis, someday). I’m digging up the internet to get resources about this homeschooling matters and stuffs. I’m hoping to join the Indonesian Homeschoolers Community. Still searching though.
Ada temen di Malang bikin Rumah Cerdas yang kemudian dapat licence dari Purdi sapa tuh yang punya Primagama untuk di-francise. Sekolah bayi pertama di Indonesia, gitu yang tertulis. Yah, dia punya duit bgt sih. Invest awal at least 45 juta untuk resource book, model Time-Life gituh. And, di Malang pendidikan sejak dini model gituh dah cukup popular and banyak keluarga berpendidikan yang sudah tercerahkan tentang hal ini, jadi lumayan mulus jalan bagi Rumah Cerdas ini mendapatkan murid2 bayi and they keep going. It’s been two years since they first invent this Rumah Cerdas and now they expand to having a playgroup too.
Bandingkan dengan kondisi di Madura. Masyarakat sekitar yang cara berpikirnya masih…: mending beliin bakso aja duitnya dari pada nge-lesin anak ke guru privat. Hhh, disini tuh ya, yang laris jadi guru privat tuh yang memang harus seorang guru, yang ngajar di sekolah murid2 itu. Karena…dengan demikian si murid bias dapet bocoran soal ujian dan bonus2 lainnya dari si guru. Bisa supaya nilainya jadi lebih bagus karena ‘deket’ ma gurunya.
Hah? Hari gene? Yah, nyatanya emang gitu kok :(
Ntar deh some time later aku nulis lagi tentang kondisi pendidikan di Kamal sini (metode, materi, attitude guru, de el el) InsyaaAllah.


Leave a response

Your response:

Categories