Posted by: wulynne | September 19, 2008

Si Pembawa Kayu Bakar

Astaghfirullah. Ada ya orang yang kayak gitu. Kirain cuma ada di sinetron doank. Jahat banget. Kesana-sini kerjanya fitnah orang lain. Di cros-cek ke semua orang omongannya kok nggak ada yang bener atau paling tidak sama dikit-lah. Ck ck! Na’udzubillah min dzalik.

Yah, episod inilah yang saat ini sedang kujalani. Ternyata penyakit yang judulnya nampang di surat pendek dalam Al Qur’an ini, sedang kronis di komplek kami. Penderitanya ibu-ibu. Kalo ghibah (ngegosip) sih mungkin masih dianggap biasa yah (astaghfirullah! ghibah jadi biasa????? na’udzubillah). Lha ini… bikin fitnah, adu domba antar tetangga. Sumbernya cuman satu sih, satu orang aja. Tapi yang menyampaikan kan banyak. Akhirnya ricuh deh satu kampung. Seru loh!

Heran. Kebencian pada satu orang aja, beliau kok pengennya satu kampung musuhin tuh orang. Sampai dibikinnya skenario yang yahud! (Mungkin Yahudi juga gitu, saking Yahudinya makanya disebut Yahud, gitu kali ya, hihi).

Parahnya, kayu bakar yang dibawanya malah mbakar dirinya sendiri loh. Eh, nggak sendiri sih, lha wong sekeluarganya kena juga. Kok bisa? Iya. Saking hebatnya ni ibu, dia bisa meyakinkan keluarganya bahwa dialah pihak yang benar. Dan orang sekampunglah yang salah. Hebat beneeeeeer!!!

Akibatnya sang suami yang sebelumnya memang menderita sakit hipertensi, jadi makin sakit kepalanya karena tiada hari tanpa “kerusuhan” di kampung ini. Dikucilkan mereka oleh warga. Mungkin inilah sanksi sosial.

Tapi, dengan menyepi di rumahnya, bukan berarti si pembawa kayu bakar berdiam diri dan insyaf loh. Walaupun di rumah, beliau tetap aktif dan produktif. Teleponnya yang bekerja untuknya. Kesana kemari telepon berusaha golek bolo -cari ce es- lobi pejabat2 kampung yang dianggap berpengaruh, sampai lobi ke kyai kampung lain untuk mbelani harga dirinya. Ternyata sang kyai tau diri dan menolak, karena merasa bukan kawasannya, sehingga riskan mencampuri urusan warga lain. Lho, kok saya tau sedetil itu? Wehehe, bakat jadi intel yah? Ya nggak dong, si pembawa kayu itu kepergok seorang bapak warga kami. Malu lah beliau. Tapi kepalang basah, atau saking stresnya kali, tetap aja lakon kayak gitu dijalani terus.

Sampai hari ini, hal itu sudah berjalan beberapa bulan, bahkan sejak sebelum Maulid Nabi. Astaghfirullah, jadi inget nih. Acara Maulid Nabi-pun dijadikan ajang kerusuhan dan cari pamor (cari bolo juga). Keluarga ini bener-bener jenis keluarga yang gila hormat deh. Na’udzubillah.

Bahkan sampai bulan Ramadhan yang suci ini pun….hhhhh….gimana nyeritainnya yah?

Ketika semua warga dapat jatah giliran nyediain makanan dan minuman untuk tadarus Qur’an, satu orang warga yang mereka benci tersebut sengaja nggak dikasih jatah giliran. Ini bukan kelupaan loh. Emang udah ditanyakan langsung. Kata suamiku, “Berarti dunia masih berkata sama tentang hubungan buruk kedua tetangga ini.

Mungkin Anda mbatin “kok nggak ada yang mendamaikan sih?” Hadooh, boro-boro, ngasih nasihat secara terpisah aja nggak masuk-masuk, gimana bikin perdamaiannya. Kedua pihak sama kerasnya. Belom lagi warga yang kebanyakan nggak banyak tau hukumnya ghibah or namimah jadi ikut rame “seminar sana-sini tentang kejadian-kejadian sehari2 yang nuansanya sama terus itu. Persis infotainment, di tv-tv.

Walaupun saya sendiri pernah kena fitnahnya satu kali, tapi saya udah maapin. Dan tiap sempat saya doa semoga si ibu dan keluarganya sembuh dari “sakit”nya. Sembuhkan Yaa Allah. Amin.

Oya, apa bener di tiap komplek/kampung selalu ada yang begini yah? Apa bener sebaiknya kita tinggal di hutan aja? Atau di komplek yang sangat individualis aja? Menurut saya, nggak tuh.


Responses

  1. ass,

    mbak…bagus juga tuh kalo cerita2 yang ada disatuin jadi buletin apa buku yang enak dibaca gituuu…biar kepake juga buat orang lain…apalagi kalo dikasih kisi-kisi…kalo ada masalah gitu gimana …atau mungkin prevensinya…

    tak tunggu lho mbak.

  2. Wah, kalo udah mulai ter-struktur gitu kayaknya, jenengan aja yang kelola Mas. Kulo pan kapan aja tak iye he he

  3. pernah kesini belum ya :)

    http://cantigi.wordpress.com/ibsn/


Leave a response

Your response:

Categories