Beberapa waktu yang lalu aku pernah menulis tentang saat-saat tenang menjelang tidur. Saat kita membebaskan diri, merilekskan badan dan otak. Saat itulah sering muncul kenangan masa lalu yang kadang bisa buat aku tersenyum lagi karenanya.
Salah satu kenangan itu muncul. Dari bawah sadar. Mungkin karena terlalu banyak diskusi tentang poligami ^-^ sehingga memori yang ini terdorong ke permukaan. Padahal aku sendiri sudah hampir lupa.
Saat itu, kami berlima masih mahasiswi yang bandel-bandelnya. Berteman erat, ketemunya di pengajian/taklim. Dengan latar belakang sosial dan pendidikan yang berbeda. Sampai sekarang pun masih jalin hubungan.
Aku cinta mereka, sayaaaang banget sama mereka. Saking sayangnya, pernah suatu kali kubilang sama mereka “Rek, aku nggak mau pisah sama kalian. Gimana kalo nanti nikah bareng, dengan satu suami… tapi berarti ada satu yang ngga kebagian ya.” Bengonglah sahabat2ku ini. Tapi terus mereka jawab “Wul, kami juga cinta dan sayang kamu…tapi kami ngga mau ah bagi-bagi suami. Ngga usah khawatir, kita akan terus sahabatan kok.”
Ada lagi kenangan lain yang muncul:
Saat dalam pengajian, salah satu ustadz kami ‘menguji’ kami tentang sunnah poligami ini, bertanya beliau pada kami, reaksi kami macam-macam…aku ingat aku jawab kalo aku fine2 aja dgn sunnah ini.
Setelah itu ada yang melamar (dengan sindiran) untuk menjadi istri keduanya. Hanya saja, sindiran yang terlalu ‘kabur’ untukku yang bener2 terlalu hijau (dan terbiasa blak2an) untuk mengerti bahwa itu sindiran. Lha wong aku nyadarnya pas diskusi dengan suami saat cerita-cerita ttg masa lalu kami.
Waktu itu, seniorku memintaku untuk nerjemahin memo dari istrinya apa isinya. Singkatnya, isi memo itu tentang walopun sakit hatinya (si istri), dia akan menerima keinginan si suami untuk melamar si akhwat.
Setelah itu, ada kejadian yang membuat aku menginap bareng sama si istri dan anaknya, yang di kemudian hari baru aku ‘ngeh’ juga bahwa itu untuk melihat karakter ’si akhwat’ aslinya, biar si istri paham betul calon madunya. Ah polos banget deh…Saking polosnya aku ngajak salah satu sahabatku untuk ikut nginep juga dan coba tebak?? Aku malah tidur duluan malam itu, mereka yang ngobrol sambil nungguin anak mereka. Dan…abis shubuh…aku masih nekat tidur lagi (maklum mahasiswi buandel ^-^).
Dari kenangan2 itulah aku jadi makin sadar sekarang… bahwa ternyata bukan karena melihat ustadz di madura itu beromantis ria dengan istri2nya…tapi… memang sejak dulu aku sudah mencintai sunnah yang ini.






