<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>That's how it's done! &#187; Uncategorized</title>
	<atom:link href="http://metamorphian.wordpress.com/category/uncategorized/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://metamorphian.wordpress.com</link>
	<description>Semua qta adalah sosok yang berubah, ada yang makin better, ada yang get worse than ever. Bermetamorfosislah dengan nyaman, ataupun dengan sakit, tapi menjadilah sosok baru yang lebih berarti untuk diri dan everybody….None will help your own change but your self. Search for answers, you'll find your peace and wisdom</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 Dec 2009 09:26:03 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='metamorphian.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/bc6815f9c6fd6d9139d262c30a771400?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>That's how it's done! &#187; Uncategorized</title>
		<link>http://metamorphian.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>(Review) Hanya Hati Yang Jernih</title>
		<link>http://metamorphian.wordpress.com/2009/12/08/review-hanya-hati-yang-jernih/</link>
		<comments>http://metamorphian.wordpress.com/2009/12/08/review-hanya-hati-yang-jernih/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 09:26:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wulynne</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[vitamin hati]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[emak ingin naik haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metamorphian.wordpress.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Tak ada dialog yang mubazir atau pun sekedar chit chat tak berpesan dalam film ini. Emak Ingin Naik Haji. Karya Aditya Gumay, yang diangkat dari cerpen karya Asma Nadia. Akting semua pemerannya sangat natural dan pas. Emosinya&#8230;ruhnya..dapet.
Emak yang sangat rindu pada baitullah, inti dari film ini sungguh menular. Lukisan ka&#8217;bah oleh tangan berbakat Zein, buku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metamorphian.wordpress.com&blog=3252570&post=113&subd=metamorphian&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://metamorphian.files.wordpress.com/2009/12/einh2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-114" src="http://metamorphian.files.wordpress.com/2009/12/einh2.jpg?w=200&#038;h=296" alt="" width="200" height="296" /></a>Tak ada dialog yang mubazir atau pun sekedar chit chat tak berpesan dalam film ini. Emak Ingin Naik Haji. Karya Aditya Gumay, yang diangkat dari cerpen karya Asma Nadia. Akting semua pemerannya sangat natural dan pas. Emosinya&#8230;ruhnya..dapet.</p>
<p>Emak yang sangat rindu pada baitullah, inti dari film ini sungguh menular. Lukisan ka&#8217;bah oleh tangan berbakat Zein, buku koyak berisi gambar-gambar di Masjidil Haram (yang dilem Emak dengan butiran nasi) yang dilantuni soundtrack suara solo seorang perempuan (Asma Nadia kah?) yang mendirikan bulu kuduk, mengirimkan sengatan listrik ke sekujur badan. Dadaku sesak.</p>
<p>Ketularan rindu dan harap yang dirasa Emak. Mata-mata yang sudah sembab, kembali berkaca-kaca, dan&#8230; banjir lagi, untuk ke sekian kalinya. Duuh, film ini bener-bener berhasil mengobrak-abrik emosi. Asli! Ternyata review teman-teman yang kubaca sebelum ini tidak berlebihan.</p>
<p>Moral yang ditawarkan di seluruh adegan, dengan perbandingan realitas sosial yang ironis, menggugah penonton untuk berucap istighfar. Jengit dan napas kaget yang tertahan dari penonton di belakangku (hehe karena telat 5 menit, daku duduknya dapet bangku depan) saat Zeinal memanjat pagar Pak Haji untuk melakukan keputusan terbodoh dalam hidupnya, demi Sang Emak tercinta, membuatku ber-haha! dalam hati (kaget kan loe&#8230;ngga nyangka Zein yang alim bakal milih cara itu untuk Emaknya&#8230;uhh, keren banget, penonton aja sampe ngga nyangka bakal gitu &#8211;jadi pengen segera baca kumcer EMak Ingin Naik Haji, biar tau versi cerpennya gimana, and pengen juga beli yang versi skenario! halaah, nggak papa wes konsumtif untuk buku-buku bagus ini).</p>
<p>Adegan-adegan yang bikin daku bercucuran air di mata plus menahan guncangan di dada (biar ngga ketauan lagi sesunggukan sendirian maksudnyaaa hahaha, eh tapi cowok di sebelahku juga sibuk mengusap matanya, bersamaan dengan waktuku nangis2 juga hihihi): mungkin ngga berurutan nih&#8230;</p>
<p>- saat Zein melihat Al-QUr&#8217;an Pak Haji yang tergelatak terbuka di kamarnya&#8230;<br />
- saat Zein sujud syukur di trotoar<br />
- saat Zein brenti sejenak melihat lukisan ka&#8217;bah di rumah saat mencari Emak untuk menyampaikan kejutan itu<br />
- saat hati Zein mengumandangkan &#8220;labaikallahumma labbaik&#8221; (aku penuhi panggilanMu) sejak lukisan itu sampai tragedi berikutnya terjadi dan kumandang itu brenti (demi Allah! Hati ini ikut menjerit &#8220;Yaa Allah, ijinkan aku jugaaa, aku pun ingin sampai kesana, memenuhi panggilanMu, panggil aku juga Yaa Allah!!)</p>
<p>-saat Zein frustasi dengan cacatnya<br />
- saat Emak merawat buku sobek itu dengan butiran nasi, memandangnya penuh rindu yang syahdu<br />
- bersamaan dengan lagu itu, yang membuat hatiku makin teriris periiih, merindu ka&#8217;bah juga untuk Emak dan diriku sendiri juga.<br />
- saat Zein lolos dari kejaran para pengejarnya, dan tersungkur di lantai, beristighfar<br />
- saat Zein melihat Bu Haji (yang sudah tak butuh kupon berhadiah impian para perindu ka&#8217;bah) membuang begitu saja puluhan kupon yang didapatnya dari belanja jutaan rupiah<br />
- saat mata Zein yang menyesali perbuatannya tiba-tiba tertumbuk pada onggokan kupon kotor yang jatuh dari meja sederhananya<br />
- saat Emak dan Zein bercengkarama di pantai, berkhayal ke Mekkah dengan naik perahu (yang teronggok di samping mereka?)<br />
- saat Emak dan Zein thawaf (subhanallah! aku terpukau saat mendengar true story syuting di masjidil Haram dari Mba Asma di Gramedia persis sebelom acara nonton EINH ini. Merinding abis! Benar-benar pertolongan Allah, the invisible hand yang menyorot Emak dan Zein thawaf. Padahal mas Aditya Gumay, mas Adenin lagi berkutat dengan para askar yang meringkus mereka &#8211;karena memang dilarang poto2 dalam masjid, apalagi syuting, hhh subhanallah!)</p>
<p>Aaahhh, pokoknya banyak deeh. Kayaknya dari awal sampai akhir film, nangis terus, ngga brenti-brenti. Sampe keluar dari bioskop pun masih srat srot nih ingus and sibuk ngelap mata pake jilbab! Jilbab? Iyaaah karena aku lupa bawa tisuu sodara-sodara! Mengenaskan bukan? Ck! Dan hanya hati bening yang bisa menghasilkan karya yang jernih begini. Karya yang dibuat dengan hati yang bersih, insyaaAllah bisa sampai ke hati penonton sekaligus menjernihkan hati mereka. Entah sudah berapa liter air mata yang tumpah karena film ini&#8230;hmm, jadi penasaran.</p>
<p>Seandainya aku tak harus segera balik ke Madura (aku nontonnya di Malang dan Aysar kan udah bolos seminggu sekolahnyaa), aku pasti bakal nonton lagi, dan lagi, dan lagi. Dan aku pasti akan tetap nangis-nangis lagi, dan lagi, dan lagi.</p>
<p>Pokoknya, kalo DVDnya dah keluar, aku harus beliiii!!! Buat suntikan semangat seandainya keinginan sujud di sana mulai luntur oleh dunia. Aku akan penuhi panggilanMu Yaa Allah! Sekalipun raga ini belum bisa kesana, saksikanlah&#8230;bahwa hatiku sudah mendahului raganya! Allahu Akbar!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/metamorphian.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/metamorphian.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/metamorphian.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/metamorphian.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/metamorphian.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/metamorphian.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/metamorphian.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/metamorphian.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/metamorphian.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/metamorphian.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metamorphian.wordpress.com&blog=3252570&post=113&subd=metamorphian&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metamorphian.wordpress.com/2009/12/08/review-hanya-hati-yang-jernih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4cd90b7b832950ced5ffea84f83b809c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wulynne</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://metamorphian.files.wordpress.com/2009/12/einh2.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tunik dan teman Misteriusnya</title>
		<link>http://metamorphian.wordpress.com/2009/11/24/tunik-dan-teman-misteriusnya/</link>
		<comments>http://metamorphian.wordpress.com/2009/11/24/tunik-dan-teman-misteriusnya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 07:57:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wulynne</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[komedi]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metamorphian.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Tengah asyik-asyiknya maen internet, Tunik merasakan debaran keras di dadanya. Dhegh! Apa gerangan kelebatan sesaat tadi? Secepat kilat sosok hitam di pojok itu datang, secepat itu pula dia menghilang. Astaghfirullah, astaghfirullah…apa tadi. A’udzubillahi minasy syathoonir rajiim. Segera Tunik minta perlindungan pada Allah. Apa tadi yaa Tuhan? Dengan takut-takut dia menoleh, celingukan mencari-cari. Mata coklatnya itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metamorphian.wordpress.com&blog=3252570&post=111&subd=metamorphian&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tengah asyik-asyiknya maen internet, Tunik merasakan debaran keras di dadanya. Dhegh! Apa gerangan kelebatan sesaat tadi? Secepat kilat sosok hitam di pojok itu datang, secepat itu pula dia menghilang. Astaghfirullah, astaghfirullah…apa tadi. A’udzubillahi minasy syathoonir rajiim. Segera Tunik minta perlindungan pada Allah. Apa tadi yaa Tuhan? Dengan takut-takut dia menoleh, celingukan mencari-cari. Mata coklatnya itu menyapu sudut ruangan. Tak ada apapun.</p>
<p>“Perasaanku kok jadi ga enak ya…Mending aku pergi keluar dulu deh, cari angin segar.”<br />
Buru-buru dia beresin mejanya. Disconnect dulu, pikirnya. Ada sesuatu yang mengganggu. Huh! Kabur dulu ah. Untung pas ngga ada yang penting.</p>
<p>Pergi keluar. Wah, ternyata di luar cerah. Lama di dalam kamar Tunik hampir lupa sentuhan matahari siang itu. Walaupun kamarnya luas dan terang, tetap aja ngga sama dengan udara di luar. Bener juga tuh orang bule entah-siapa-namanya, bilangnya: matikan komputer, rangkullah orang-orang yang sayangi dengan tanganmu. Sayangnya ini di tempat kos, yang semua penghuninya individualis. Apes tenan, pikir Tunik. Ya, sudah lah, ku nikamti hari ini saja.</p>
<p>Sambil berjalan di sepanjang gang, Tunik memikirkan sosok hitam tadi. Sering ia mendengar suara-suara di dalam rumah kosnya. Orang bilang rumah itu singup memang. Pohon di depan rumah itu pun rimbun. Sebenarnya cukup seru untuk dipakai main panjat-panjatan. Tapi anehnya…tak seorang pun bersedia berlama-lama di sekitar situ.</p>
<p>Kadang saat sepi, terdengar bunyi di dapur, yang jaraknya cukup jauh dari kamar Tunik di depan. Kadang suara kelontangan mengganggu tidur siangnya yang nyenyak. Sering pula tengah malam ada bunyi-bunyian saat semua penghuni kos tengah lelap.</p>
<p>Bergidik Tunik mengingat semua keanehan di kosnya.</p>
<p>Mungkin sebaiknya aku pindah kos saja…pikirnya. Ah, tapi itu melarikan diri namanya. Aku tak suka lari dari masalah. Kalo memang ada yang menyatroni rumah kos, sebaiknya para penghuni mulai musyawarah untuk cari solusi kan, gumamnya. Teman-teman harus mulai sadar bahwa kami memang butuh bersatu. Individualisme di rumah kos kami juga satu masalah yang kudu dicari penyelesaiannya.</p>
<p>Jatuh sepucuk flamboyan merah di ujung jilbabnya. Kaget, dia karena terlalu dalam berpikir tentang rumahnya. Ah, sudahlah, tak perlu terlalu serius begini. Baiknya aku tunggu teman-teman nanti malam.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Malam itu Tunik mengumpulkan teman-teman kosnya.</p>
<p>“Teman-teman, aku tahu kita jarang sekali duduk bersama. Aku tahu kita semua sibuk. Aku hanya ingin kita berpikir sama-sama tentang keanehan rumah ini. Itu juga kalo kalian merasakan hal yang sama lho. Apa ada yang merasa begitu?”</p>
<p>Beberapa orang menganggukkan kepala, yang lain mengerutkan kening.</p>
<p>“Ya, aku cukup sering terganggu dengan suara-suara di rumah ini. Juga pohon di depan rumah.” Kata gadis berkacamata tebal di sudut sofa.</p>
<p>“Aku sih ngga. Anggap aja ngga ada apa-apa. Buat apa pusing mikir hal yang ngga guna.” Kata mbak berambut cepak.</p>
<p>Ruang tamu ini jadi penuh gumaman. Tunik merasa mereka harus cepat mengmbil keputusan.</p>
<p>“Baiklah, siapa yang paling pemberani di antara kita? Karena, terus terang saja aku sendiri terlalu penakut untuk menyelidiki hal-hal aneh ini sendirian.” Tanyanya pada semua orang.</p>
<p>Si cepak langsung menawarkan diri,”Udah sama aku aja deh. Penakut amat sih kamu.”</p>
<p>“Ada lagi yang mau ikut mengamati rumah?” tawar Tunik pada sisanya.</p>
<p>“Huh, kalo semua orang ikut menyelidiki, si bayangan hitam kau bilang tadi, dia bisa cepat kabur, lihat semua graduk gruduk ke semua penjuru rumah. Bukannya kau sendiri tahu kalo dia suka muncul dan bikin ribut tuh kalo rumah sepi. Orang pada pergi atau pada tidur. Ya kan?” Cerocos si cepak.</p>
<p>“Ngg, betul juga siih.” Gumam Tunik. “Baiklah kalo begitu hanya kita berdua saja nih? Ntar kalo ada apa-apa sama kita gimana?”</p>
<p>“Gini deh. Kalo memang itu bayangan nyerang kita, aku siap.” Sahut si cepak.</p>
<p>Semua yang hadir mengerutkan dahi. Yah. Masing-masing memang hampir tak saling kenal kecuali nama dan tempat sekolah atau tempat kerja mereka. Jadi, wajar saja kalo mereka bertanya-tanya.</p>
<p>“Aku ini pandai karate” dengan gemas si cepak menjelaskan. “Asal itu bayangan orang beneran dan nyerang aku, pasti aku bisa atasi.” Jawabnya sedikit nyombong.</p>
<p>“Oh, aku jadi agak lega” kata Tunik.</p>
<p>“Ok, jadi kita ketemu lagi tengah malam nanti ya, mbak” kata Tunik lagi pada si cepak.<br />
&#8212;-</p>
<p>Dan tengah malam datang berteman suara jangkrik. Ditingkah gemerisik daun-daunan di pohon di halaman. Mencekam. Itu yang dirasakan Tunik. Gemetar juga nyalinya menyambut petualangan yang entah akan berhubungan dengan makhluk halus atau tidak, karena jujur saja, tak sekalipun selama hidupnya, Tunik pernah berhubungan dengan makhluk Allah yang satu itu.</p>
<p>Si mbak rambut cepak pun datang. “Kau siap?” tanyanya.</p>
<p>Mengangguk, Tunik segera berdiri dan berjalan ke arah dapur, mengikuti si cepak.</p>
<p>Dikuat-kuatkannya hatinya. Berharap cemas. Berharap penyelesaian masalah. Tapi sekaligus tak ingin melihat yang tidak-tidak.</p>
<p>Sebelumnya, dia sudah cukup sering mendengar kesaksian orang-orang yang pernah diganggu penglihatannya dengan mahkluk dari jenis yang satu itu. Dulu, teman SMAnya pernah melihat dua ‘orang’ berbadan kecil di tangga belakang rumah. Mendengarnya saja kuduknya sudah langsung berdiri.</p>
<p>Sekarang ini, Tunik bahkan akan menyongsong pengalaman serupa sendiri? Oh, Tuhan, do’anya, semoga aku tak melihat apapun yang kutakutkan nanti.</p>
<p>Semoga memang makhluk kasar, bukan makhluk halus. Amin. Amin. Amiiin.</p>
<p>Belum sampai ke dapur, sudah terdengar suara. Bergeser. Srak srek. Srak srek. Klontang.<br />
Degup jantung Tunik semakin keras. Dia tengokkan kepala ke mbak cepak. Sama tegangnya rupanya. Si cepak menganggukkan kepala dan mulai berjingkat sambil mengacungkan martil yang dibawanya di tangan kanannya. Tunik mengikuti dari belakang. Sambil komat-kamit berdo’a. sesekali dia berjalan sambil menyipitkan matanya. Ingin sekali tidak melihat apa yang ada.</p>
<p>Sudah sampai di pintu dapur.</p>
<p>OH!</p>
<p>Itu, berlari ke bawah lemari. “Mbak, itu! Di bawah lemari” jerit tertahan Tunik pada si cepak.</p>
<p>“Aku tahu!” bisik si cepak.</p>
<p>Cepat mereka menyeberangi ruangan, dan mengepung lemari dapur.</p>
<p>“Cepat kau ambil sapu itu, sorongkan ke bawah lemari!” perintah si cepak.</p>
<p>Tunik segera menyambar sapu dan dengan takut-takut menyorongkan ke sebelah kanan lemari, sedangkan si cepak, mengepung dari sebelah kiri.</p>
<p>Cepat. Sosok hitam mulai berlari cepat ke arah si cepak. Whut! Si cepak terjengkang dan jatuh. Tapi cepat bangkit lagi. Tunik menyusulnya ke pojok lain dapur. Disitulah, mereka melihat dengan jelas sosok asli pengganggu kenyamanan rumah kos.</p>
<p>Seekor tikus yang cukup besar. Hitam legam. Sebesar kucing.</p>
<p>Tunik bertaruh dalam hati, pasti tak ada kucing yang berani mengganggunya. Atau, mungkinkah dia tikus jadi-jadian.</p>
<p>Si cepak cukup gesit memukul tikus itu dengan martil. Meleset sedikit. Darah segar muncrat. Rupanya, dari ekornya yang terluka.</p>
<p>Mencicit keras, tikus itu pun pergi ke kamar mandi. Larilah mereka mengejarnya. Begitu sampai di kamar mandi…</p>
<p>Kosong. Nyalang, mata mereka mencari, dan menemukan tutup saluran air sudah berantakan posisinya.</p>
<p>“Kuat sekali dia mendorong tutup ini” kata si cepak sambil memungut tutup itu.</p>
<p>“Hhhhh” terengah Tunik hanya mengangguk mengiyakan.</p>
<p>Malam yang cukup menegangkan baginya.</p>
<p>“OK! Besok pagi-pagi kita semua kumpul dan harus mau bekerja bakti bersih-bersih rumah. Agar tak satu tikus pun suka tinggal disini.” Tukas mbak cepak.</p>
<p>“Setuju!” sahut Tunik.</p>
<p>“Tapi mbak, gimana dengan pohon didepan? Sampai sekarang pun ngga ada yang mau dan suka duduk-duduk di bawahnya lho. Apa kita tebang saja?” tanya Tunik.</p>
<p>“Gundulmu. Terang aja ngga ada yang mau. Bisa ketiban itu blarak dan kelapa tua.” Terbahak si cepak melenggang ke kamar. Tidur. Malam masih panjang.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/metamorphian.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/metamorphian.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/metamorphian.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/metamorphian.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/metamorphian.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/metamorphian.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/metamorphian.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/metamorphian.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/metamorphian.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/metamorphian.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metamorphian.wordpress.com&blog=3252570&post=111&subd=metamorphian&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metamorphian.wordpress.com/2009/11/24/tunik-dan-teman-misteriusnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4cd90b7b832950ced5ffea84f83b809c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wulynne</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mati</title>
		<link>http://metamorphian.wordpress.com/2009/11/24/mati/</link>
		<comments>http://metamorphian.wordpress.com/2009/11/24/mati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 07:48:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wulynne</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[ajal]]></category>
		<category><![CDATA[mati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metamorphian.wordpress.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Kembali pikiran tentang kematian menerpa. Saat kudengar berita tentang ketua dpd pks bangkalan yang meninggal. Secara, orang terdekatku sendiri yang meninggal baru satu: bapak mertuaku. Yang saat perginya cukup menguras air mata. Bagaimanapun, itu adalah takdir yang pasti terjadi. Entah kapan giliranku&#8230;
Kematian. Enam kaki kita nanti di bawah sana. Berkalang tanah. Berteman cacing-cacing. Dan lain-lainnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metamorphian.wordpress.com&blog=3252570&post=108&subd=metamorphian&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kembali pikiran tentang kematian menerpa. Saat kudengar berita tentang ketua dpd pks bangkalan yang meninggal. Secara, orang terdekatku sendiri yang meninggal baru satu: bapak mertuaku. Yang saat perginya cukup menguras air mata. Bagaimanapun, itu adalah takdir yang pasti terjadi. Entah kapan giliranku&#8230;</p>
<p>Kematian. Enam kaki kita nanti di bawah sana. Berkalang tanah. Berteman cacing-cacing. Dan lain-lainnya yang mungkin menjijikkan. Menggerogoti jasad kaku kita. Bau, pengap, gelap. Tak kan pernah lagi kulihat cahya mentari&#8230; wangi bunga melati&#8230;dan senyum sang buah hati.</p>
<p>Bagaimanakah ajal akan menjemput? Dengan jalan apapun, pasti dicabutnya akan terasa sakit. Suakit! Rasulullah saw yang selalu dijaga dari berbuat dosa, yang ma&#8217;sum, pun merasakan sakitnya. Apa tah lagi kita&#8230;orang biasa&#8230;yang banyak dosa.</p>
<p>Saat ruh dicabut, apakah bola mata kita akan terbelalak mengikuti gerak ruh yang dicerabut ke atas kepala kita? Apakah ruh akan dicabut dengan keras bak orang menyentak menjambak? Atakah akan pelaaan dan dalam, ibarat pedang mengiris kulit? Seperti apakah malaikat Izrail menampakkan wujudnya nanti di akhir nafas kita? Beringas? Atau sedap dipandang?</p>
<p>Perempuan yang islam, matinya nanti sangat sopan. Akan dipakaikan pada mereka kain kafan yang sempurna menutup auratnya. Hanya tersisa muka dan telapak tangan. Begitu pulalah mereka akan dibangkitkan (wallahu a&#8217;alam).</p>
<p>Lalu dengan apa kita akan menghadap? Amalan kita yang mana yang diterimaNya? Mana pula yang hangus tak berbekas karena kita tak ikhlas? Mana yang tak diridhaiNya, yang dibenciNya? Buku apa yang bakal kita terima? Tangan kanan atau kiri yang akan menerimanya?</p>
<p>Harum surga, akankah tercium? Atau justru bau hangus neraka yang menguar?</p>
<p>Dan yang terpenting, apakah Allah berkenan menyapa kita? Apakah Yang Maha Penyayang tidak berkenan menyapa kita? O dear me kalau itu yang terjadi betapa menyedihkan. Terbayang sakitnya hati bila teman karib tak mau menyapa&#8230; apa tah lagi Yang Paling Penyayang&#8230; lalu siapa lah lagi yang akan menyayangi kita.</p>
<p>Marilah kita jangan berbuat, bila Dia tak suka.<br />
Agar kita tetap mendapatkan kasih-sayangNya,<br />
Saat berjumpa nanti denganNya,<br />
Disana.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/metamorphian.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/metamorphian.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/metamorphian.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/metamorphian.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/metamorphian.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/metamorphian.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/metamorphian.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/metamorphian.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/metamorphian.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/metamorphian.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metamorphian.wordpress.com&blog=3252570&post=108&subd=metamorphian&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metamorphian.wordpress.com/2009/11/24/mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4cd90b7b832950ced5ffea84f83b809c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wulynne</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(PULPEN) Pendamba Cinta</title>
		<link>http://metamorphian.wordpress.com/2009/11/24/pulpen-pendamba-cinta/</link>
		<comments>http://metamorphian.wordpress.com/2009/11/24/pulpen-pendamba-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 06:12:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wulynne</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metamorphian.wordpress.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[note fb ku







Tuesday, October 27, 2009 at 12:38pm &#124; Edit Note &#124; Delete

Sore itu jam tiga pas. Panas yang menyengat di ubun-ubun pun mulai mereda. Miya menutup rapat OSIS dengan mantap setelah sebelumnya mengingatkan stafnya untuk menyelesaikan pe er masing-masing seksi.
Semua sudah beranjak dari duduknya, pulang. Miya masih terpekur sendiri di ruang OSIS. Enggan pergi. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metamorphian.wordpress.com&blog=3252570&post=105&subd=metamorphian&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=176024463872">note fb ku<br />
</a></p>
<div id="note_177315138872">
<div>
<div></div>
</div>
</div>
<div>
<div>Tuesday, October 27, 2009 at 12:38pm | <a href="http://www.facebook.com/editnote.php?note_id=176024463872">Edit Note</a> | <a href="http://www.facebook.com/profile.php?v=app_2347471856&amp;ref=name&amp;id=1106472577#">Delete</a></div>
</div>
<p>Sore itu jam tiga pas. Panas yang menyengat di ubun-ubun pun mulai mereda. Miya menutup rapat OSIS dengan mantap setelah sebelumnya mengingatkan stafnya untuk menyelesaikan pe er masing-masing seksi.</p>
<p>Semua sudah beranjak dari duduknya, pulang. Miya masih terpekur sendiri di ruang OSIS. Enggan pergi. Enggan pulang.</p>
<p>Di sekolah dia merasa lebih bisa menjadi dirinya sendiri. Ngga perlu menahan diri, ngga perlu makan hati. Dikenal sebagai siswi pandai, walaupun tak terlalu mengejar predikat prestatif dalam lomba-lomba. Taat peraturan sekolah, pandai memenej organisasi: OSIS dan Mading (majalah dinding). Toleran dan disegani oleh teman laki-lakinya. Bukan berarti dia lolos dari godaan dan keisengan cowok-cowok puber itu. Hanya saja, Miya cukup luwes menyikapinya.</p>
<p>Tapi lain di sekolah, lain pula dia jika berada di rumah. Miya menjadi pendiam. Jutek. Suram lah pokoknya. Apa yang salah dengan rumah ya, pikirnya. Apakah rumahku terkutuk? Dikutuk? Oleh siapa kalau memang benar dikutuk? Aah, mestinya kau tak berpikir negatif begitu Miya, tegurnya pada dirinya sendiri.</p>
<p>Tapi memang begitulah kondisi yang Miya alami. Sikap positifnya di sekolah seakan amblas, terbang entah kemana, kalau dia sampai di rumah. Akan lain halnya saat ada teman yang bertandang ke rumahnya. Sikap Miya akan sedikit berubah. Seakan kehadiran teman menjadi obat yang cespleng baginya untuk mengalihkan perhatiannya.</p>
<p>Dan sore ini, Miya melangkahkan kakinya memasuki rumah seperti membawa beban berat. Seperti biasa, sejak tiga tahun terakhir ini. Sejak dia lulus SMP. Sejak dia menyadari sikap hangat yang palsu pada mamanya.</p>
<p>Miya masuk kamar setelah mengucap salam, entah pada siapa, mungkin pada jin-jin yang numpang tinggal di rumah, karena dia tak akan menemukan siapapun disana. Setelah mengganti bajunya, Miya makan siang. Sendiri. Makanan yang dimasak dengan terburu-buru oleh mama. Mama.</p>
<p>Miya mengenang mamanya sambil menelan suap demi suap isi piringnya. Hampir tak pernah dia perhatikan apa yang dimakannya. Apakah yang sedang kau pikirkan sekarang, Ma? Batin Miya bergemuruh bertanya pada angin sepoi yang bertiup dari jendela berteralis di sampingnya. Apakah ada aku, Ma, dalam benakmu saat kau sibuk dengan notulensi rapat kantor atau mengatur jadwal direkturmu?</p>
<p>Bangun pagi sebelum subuh, Mama selalu sibuk di dapur sambil tak lupa memencet mesin cuci dan menyalakan kran air. Menejemen rumah yang cukup keren. Begitulah Miya melihat mama mengurus rumah.</p>
<p>Saking kerennya, mama selalu melakukan hal yang sama tiap hari, sehingga nampak bagai robot bagi Miya. Mungkin karena mama melakukan dialog yang menurut Miya monoton, hampir seperti…sekedar basa-basi, sekedar agar tak lengang ruangan ini.</p>
<p>Dulu, Miya akan tetap semangat menceritakan semua aktifitasnya. Tapi lama-lama, dia menyadari bahwa mama tak terlalu memperdulikan semua ceritanya. Memang mama kadang menimpali. Tapi, jika Miya pikir lagi tentang semua respon mama, hambar memang, serasa dialog satu arah saja. “Oya?”, “O gitu?”, “Mmm”, “Ho oh”, dan sejenisnya yang nadanya Miya rasa sekedar agar terlihat mendengarkan, padahal tidak. Nada yang asal bunyi, nada yang kurang care. Ngga perhatian.</p>
<p>Dulu, menjelang kelulusannya dari SMP, Miya berpikir, mungkinkah dia bukan anak kandung mama. Tapi tidak lama, sebab otaknya mengajaknya berpikir bahwa golongan darah dan akta kelahirannya mengungkapkan data yang sebaliknya.</p>
<p>Dan papa…memang papa seorang yang cukup hangat. Tapi itu tergantung gimana respon mama padanya. Kalau mama cuek and bikin bete, hampir bisa dipastikan papa akan bersikap tidak jauh dari itu. Bahkan pada Miya. Aura cuek dan bete memang sangat cepat menular ke sekitar, mungkin. Ah, tapi aku sudah biasa, jerit Miya dalam hati. Senyum sinisnya yang agak miring mengambang tak rela dibibirnya. Sambil memandang sebal keluar jendela. Merutuki hidupnya yang hambar. Hampa.</p>
<p>Di sekolah dia sangat populer. Banyak kawan, tapi tak ada yang terlalu dekat dengannya. Dia tak pernah mengijinkan siapapun terlalu dekat dengannya. Semuanya selalu dijaganya dalam batas kewajaran. Cewe dingin, begitu mereka menyebutnya. Tapi itu bahkan semakin membuat banyak temannya penasaran padanya.</p>
<p>Pernah seorang teman sekelasnya, Vina, menanyakan hal itu padanya. Betapa sebenarnya Miya ingin menangis mencurahkan perasaan sepinya pada Vina saat itu juga. Tapi tidak. Yang Miya lakukan hanya mengangkat bahunya, sambil tersenyum kecut dia berkata, “Oh ya?” Tentu saja sebagai teman yang selalu memperhatikan Miya, Vina tetap menunggu jawaban Miya. Tapi kelihatannya Miya tak hendak menjawab apapun dan membiarkan Vina berkubang dalam rasa penasarannya.</p>
<p>Guru pembimbingnya pun pernah menanyakan hal itu. Setelah sebelumnya meminta maaf karena akan mengajukan pertanyaan yang agak pribadi. Miya hanya mengangkat satu alis matanya ke atas. Miya tidak suka kehidupan pribadinya diulik. Tapi karena Pak Hendra yang bertanya. Dia hanya diam mempersilahkan.</p>
<p>“Miya, kamu benar-benar siswi yang cemerlang dan punya potensi yang besar untuk masa depanmu.” Kata Pak Hendra memulai. “Tapi dibalik semua bakatmu, saya kok merasa ada yang kurang darimu. Menurut Bapak, kamu bertangan dingin terhadap semua tugasmu, dan itu bagus, sangat bagus. Hanya saja, terlalu dingin, Miya. Apa kamu menyadari itu?”</p>
<p>Miya sangat tahu maksud Pak Hendra dengan “terlalu dingin.” Dan beliau benar. Tapi Miya hanya mengerutkan alis matanya sambil balik bertanya, “Maksud Bapak? Ahahaha, iya sih, saya memang suka kebanyakan minum es di kantin Bu Jum. Tapi saya yakin itu tak akan mempengaruhi kerja saya, Pak. Suer…” suara Miya mengecil lalu hilang.</p>
<p>Betapa sebenarnya dia tak suka berbohong. Ini salah satu prinsip dalam hidupnya. Tapi demi menghindar dari pertanyaan yang demikian menembus privasinya, Miya berlagak pilon. Walaupun akhirnya dia tak sanggup mempertahankan nada suara yang meyakinkan untuk bisa membuat Pak Hendra mundur dari pertanyaan itu.</p>
<p>Miya sangat menghormati Pak Hendra. Pak Hendra selalu percaya dan care dengan semua kegiatan OSIS. Dan Miya tahu, beliau begitu bukan karena sekedar menjalankan tugas sebagai guru pembimbing, tapi lebih karena cinta dan sayangnya pada semua siswa-siswi putih abu-abu. Mungkin karena beliau sangat memahami gejolak jiwa remaja yang jelas jauh dari stabil. Dan Miya berpikir, jelas dia salah satu dari yang tidak stabil itu. Dingin. Hahaha. Betapa tepatnya Pak Hendra menggambarkan kehampaan jiwaku, gerutu hati Miya.</p>
<p>Pak Hendra hanya tersenyum mendengarkan Miya ngeles. “Jadi, kamu tahu, kan, kalau kamu terlalu dingin?” Miya hanya mengangguk enggan. “Dan kamu tahu itu nggak wajar.” Pak Hendra sepertinya bukan sedang bertanya. Dia sedang menyatakan. Menegaskan. Miya mengerang dalam hati. “Duuh, kayaknya ngga bisa berkelit lagi deh.”</p>
<p>“Bapak kayak psikolog aja.” Protes Miya pendek, masih enggan menjelaskan.</p>
<p>“Kamu mau cerita ke Bapak?” Nada Pak Hendra kali ini seperti memohon, tapi Miya yakin beliau tak sedang memerintah. Tapi ini lebih buruk! Rutuk Miya. Miya lebih pandai berkelit dari tekanan, tapi lemah untuk sebuah permohonan. Yang tulus. Apalagi yang dimohonkan ini untuk kebaikan dirinya. Ah!</p>
<p>Walaupun curhat ke Pak Hendra mungkin bisa melempangkan kesumpekan batinnya, Miya masih bergulat dengan kenyamanan yang datang tak diundang itu.</p>
<p>“Sangat sulit ya?” Tiba-tiba Pak Hendra bertanya.</p>
<p>Miya meringis dan mengangguk lagi. Beliau tahu. Beliau tahu pergulatanku, batin Miya. Apa dulu waktu beliau masih remaja juga punya masalah yang sama denganku. Miya mengajukan dugaan pada dirinya sendiri. Well, ini tentangku, bukan tentang beliau. Yang jelas beliau paham.</p>
<p>Tak perlu datang ke guru BP untuk curhat kalau OSIS sudah punya guru pembimbing yang peka terhadap anak-anak asuhnya begini. Miya sedang menimbang-nimbang bagaimana sebaiknya menyampaikan curhatnya biar tak terkesan cengeng.</p>
<p>Saat membuka mulutnya, pengkhianat itu bahkan sudah mendahului kata-kata Miya. Air mata brengsek, rutuk Miya. Alhasil, Miya, cuma megap-megap kayak ikan mas koki.</p>
<p>“Saya rasa, Bapak bahkan bisa lebih mengerti daripada saya sendiri, Pak Hendra. Bapak tentu lebih banyak makan asam-garam kehidupan. Jadi, ya, mungkin sekali Bapak bisa membantu saya. Mohon bantuannya ya, Pak?” cepat sekali Miya bicara untuk mengatasi kegugupannya atas air mata yang turun tak terkontrol.</p>
<p>Bersamaan dengan air matanya, hati Miya terasa pedih, klise, seperti diiris sembilu. Semua hambar dan hampa yang selama ini disalahgunakannya untuk menumpulkan rasa sedihnya tiba-tiba menghilang. Hampa selalu menyelebungi dirinya dari rasa pedih menyadari bahwa dia memang tidak bahagia dengan keluarganya. Dan kini, tiba-tiba semua beban kesedihan dan kepedihan menyeruak ke permukaan hatinya dan membuatnya berdarah.</p>
<p>Miya tak yakin bagaimana ekspresi mukanya saat ini. Tapi Miya lega bahwa Pak Hendra menanyainya di ruang guru, dan bukan di ruang OSIS yang setiap saat anak buahnya bisa masuk. Miya yakin dia tak ingin, teman-temannya tahu tangisnya. Bersyukur bahwa mungkin Pak Hendra tahu bahwa ini akan terjadi, Miya tersenyum penuh terima kasih di antara air matanya.</p>
<p>Walaupun sekarang ini hatinya sangat sakit oleh semua rasa yang tiba-tiba menghunjamnya, Miya yakin hatinya sudah mulai menghangat. Hangat oleh harapan. Dia tahu akan ada yang menolongnya melalui semua ini. Sekarang, setelah dia mengijinkan dirinya menerima uluran pertolongan dari Pak Hendra. Mungkin, nantinya dia juga akan bisa memandang dengan lebih hangat pada Vina, dan pada teman-temannya yang lain.</p>
<p>Mungkin akan tiba pula saatnya, bagi Miya, untuk memandang lebih hangat pada Papa, lalu Mama. Mungkin Mama akan merasakan kehangatan itu juga dan bersedia membuka hatinya untuk Miya. Untuk semua. Mungkin.</p>
<p>***</p>
<p>Kritik dan review-nya ditunggu <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /><br />
Singkat, padat, pedas, boleh.<br />
Panjang, lugas, penuh pujian, boleh banget. Hahaha <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/metamorphian.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/metamorphian.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/metamorphian.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/metamorphian.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/metamorphian.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/metamorphian.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/metamorphian.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/metamorphian.wordpress.com/105/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/metamorphian.wordpress.com/105/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/metamorphian.wordpress.com/105/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metamorphian.wordpress.com&blog=3252570&post=105&subd=metamorphian&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metamorphian.wordpress.com/2009/11/24/pulpen-pendamba-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4cd90b7b832950ced5ffea84f83b809c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wulynne</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Unwritten&#8221;</title>
		<link>http://metamorphian.wordpress.com/2009/11/24/unwritten/</link>
		<comments>http://metamorphian.wordpress.com/2009/11/24/unwritten/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 05:57:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wulynne</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[song]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metamorphian.wordpress.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[
Thursday, October 29, 2009 at 7:32am &#124; Edit Note &#124; Delete


(Natasha Bedingfield)
I am unwritten, can&#8217;t read my mind, I&#8217;m undefined
I&#8217;m just beginning, the pen&#8217;s in my hand, ending unplanned
Staring at the blank page before you
Open up the dirty window
Let the sun illuminate the words that you could not find
Reaching for something in the distance
So close [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metamorphian.wordpress.com&blog=3252570&post=103&subd=metamorphian&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div>
<div>Thursday, October 29, 2009 at 7:32am | <a href="http://www.facebook.com/editnote.php?note_id=177315138872">Edit Note</a> | <a href="http://www.facebook.com/profile.php?v=app_2347471856&amp;ref=name&amp;id=1106472577#">Delete</a></div>
</div>
<div>
<div>(Natasha Bedingfield)</p>
<p>I am unwritten, can&#8217;t read my mind, I&#8217;m undefined<br />
I&#8217;m just beginning, the pen&#8217;s in my hand, ending unplanned</p>
<p>Staring at the blank page before you<br />
Open up the dirty window<br />
Let the sun illuminate the words that you could not find</p>
<p>Reaching for something in the distance<br />
So close you can almost taste it<br />
Release your inhibitions<br />
Feel the rain on your skin<br />
No one else can feel it for you<br />
Only you can let it in<br />
No one else, no one else<br />
Can speak the words on your lips<br />
Drench yourself in words unspoken<br />
Live your life with arms wide open<br />
Today is where your book begins<br />
The rest is still unwritten</p>
<p>Oh, oh, oh</p>
<p>I break tradition, sometimes my tries, are outside the lines<br />
We&#8217;ve been conditioned to not make mistakes, but I can&#8217;t live that way</p>
<p>Staring at the blank page before you<br />
Open up the dirty window<br />
Let the sun illuminate the words that you could not find</p>
<p>Reaching for something in the distance<br />
So close you can almost taste it<br />
Release your inhibitions<br />
Feel the rain on your skin<br />
No one else can feel it for you<br />
Only you can let it in<br />
No one else, no one else<br />
Can speak the words on your lips<br />
Drench yourself in words unspoken<br />
Live your life with arms wide open<br />
Today is where your book begins</p>
<p>Feel the rain on your skin<br />
No one else can feel it for you<br />
Only you can let it in<br />
No one else, no one else<br />
Can speak the words on your lips<br />
Drench yourself in words unspoken<br />
Live your life with arms wide open<br />
Today is where your book begins<br />
The rest is still unwritten</p>
<p>Staring at the blank page before you<br />
Open up the dirty window<br />
Let the sun illuminate the words that you could not find</p>
<p>Reaching for something in the distance<br />
So close you can almost taste it<br />
Release your inhibitions<br />
Feel the rain on your skin<br />
No one else can feel it for you<br />
Only you can let it in<br />
No one else, no one else<br />
Can speak the words on your lips<br />
Drench yourself in words unspoken<br />
Live your life with arms wide open<br />
Today is where your book begins</p>
<p>Feel the rain on your skin<br />
No one else can feel it for you<br />
Only you can let it in<br />
No one else, no one else<br />
Can speak the words on your lips<br />
Drench yourself in words unspoken<br />
Live your life with arms wide open<br />
Today is where your book begins<br />
The rest is still unwritten<br />
The rest is still unwritten<br />
The rest is still unwritten</p>
<p>Oh, yeah, yeah</p>
<p>P.S. : Really girl power and&#8230;so writer!<br />
I luv it!<br />
Do you?</p></div>
</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/metamorphian.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/metamorphian.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/metamorphian.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/metamorphian.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/metamorphian.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/metamorphian.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/metamorphian.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/metamorphian.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/metamorphian.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/metamorphian.wordpress.com/103/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metamorphian.wordpress.com&blog=3252570&post=103&subd=metamorphian&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metamorphian.wordpress.com/2009/11/24/unwritten/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4cd90b7b832950ced5ffea84f83b809c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wulynne</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Name is Rain</title>
		<link>http://metamorphian.wordpress.com/2009/11/24/the-name-is-rain/</link>
		<comments>http://metamorphian.wordpress.com/2009/11/24/the-name-is-rain/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 05:44:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wulynne</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[poem]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metamorphian.wordpress.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[
(kopi dari note fbku)

Sunday, November 8, 2009 at 4:08pm &#124; Edit Note &#124; Delete

When the sky is getting darker
I saw the clouds are deep grayish
They seems to get heavier
Just wanting to get rid of the splash
Splish splash
The earth is having the party
The ground is wet
Joy of the gloom
The greens are drinking
The road is slippery
The mud&#8230;
Is [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metamorphian.wordpress.com&blog=3252570&post=101&subd=metamorphian&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div>
<div>(kopi dari note fbku)</div>
<div></div>
<div>Sunday, November 8, 2009 at 4:08pm | <a href="http://www.facebook.com/editnote.php?note_id=184614088872">Edit Note</a> | <a href="http://www.facebook.com/profile.php?v=app_2347471856&amp;ref=name&amp;id=1106472577#">Delete</a></div>
</div>
<p>When the sky is getting darker<br />
I saw the clouds are deep grayish<br />
They seems to get heavier<br />
Just wanting to get rid of the splash</p>
<p>Splish splash<br />
The earth is having the party<br />
The ground is wet<br />
Joy of the gloom</p>
<p>The greens are drinking<br />
The road is slippery<br />
The mud&#8230;<br />
Is amusing</p>
<p>All in all<br />
Those are only<br />
In my daydream</p>
<p>O how I miss<br />
The rain so much</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/metamorphian.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/metamorphian.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/metamorphian.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/metamorphian.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/metamorphian.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/metamorphian.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/metamorphian.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/metamorphian.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/metamorphian.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/metamorphian.wordpress.com/101/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metamorphian.wordpress.com&blog=3252570&post=101&subd=metamorphian&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metamorphian.wordpress.com/2009/11/24/the-name-is-rain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4cd90b7b832950ced5ffea84f83b809c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wulynne</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tantrum</title>
		<link>http://metamorphian.wordpress.com/2009/10/22/tantrum/</link>
		<comments>http://metamorphian.wordpress.com/2009/10/22/tantrum/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 03:22:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wulynne</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metamorphian.wordpress.com/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[Definisi literalnya kemarahan, kemurkaan. Secara istilah mungkin begini: bagaimana seseorang mengeluarkan amarah yang hebat (untuk mencapai maksudnya). Saya persempit lagi di sini dalam lingkup tantrum balita (dan juga tantrum orang tuanya dalam menghadapi tantrum balitanya). Secara saya sedang punya kesulitan yang cukup menguji kesabaran saya dalam mendampingi si sulung 4,5 tahun.
Entah kapan mulainya sulung kami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metamorphian.wordpress.com&blog=3252570&post=99&subd=metamorphian&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Definisi literalnya kemarahan, kemurkaan. Secara istilah mungkin begini: bagaimana seseorang mengeluarkan amarah yang hebat (untuk mencapai maksudnya). Saya persempit lagi di sini dalam lingkup tantrum balita (dan juga tantrum orang tuanya dalam menghadapi tantrum balitanya). Secara saya sedang punya kesulitan yang cukup menguji kesabaran saya dalam mendampingi si sulung 4,5 tahun.</p>
<p>Entah kapan mulainya sulung kami ini mulai bertantrum ria. Terasa oleh saya sih mulai adeknya lahir. Dan semenjak sulung mulai masuk TK. Tangisannya yang lumayan menjengkelkan tanpa jeda, ck bener-bener awet. Istiqamah banget sulung menangis sampai tercapai keinginannya. Hmmh, ego yang luar biasa. Saya masih menganggap itu wajar karena masa perkembangan balita memang demikian adanya. Terutama mulai umur 2 tahun. Sampai umur berapa, itu masih bervariasi. Kemungkinan besar tergantung pada bagaimana orang-tua atau pendampingnya (care  taker/custody) memberikan treatmen terhadap tantrum balita ini.</p>
<p>Terus terang, kalau saya lagi capek fisik atau pun lagi futur ruhiyah, tantrum balita ini bener-bener membuat &#8216;monster&#8217; dalam diri saya bangun. Jadi, saat si monster ini kemudian mengambil alih kendali hati terhadap semua indera saya, dia mulai mengancam sulung. Bahwa kalau sulung ga berhenti dari rengekannya, dia akan mencubitnya, atau memukulnya (tentu saja dia ga bakalan membunuhnya, kurasa). Apakah itu menghasilkan keberhasilan? Apakah ancaman-ancaman itu membuat sulung menghentikan terornya? Saya yakin Anda sudah tahu jawabannya. Tentu saja tidak. Sebaliknya, sulung makin memperkeras volume jeritannya. Oh My God! Mercy me! Allah tolong kasihani saya. Batin saya.</p>
<p>Memang luar biasa proses yang terjadi dalam diri saya saat itu. Di saat si monster menggerung marah dan melontarkan kata-kata yang tak cukup bijak, kata-kata yang tak diedit, sisi lain hati saya berteriak memberi peringatan. Sabar Bunda! Dia cuma seorang anak kecil. Masih 4,5 tahun. Dia bahkan ga tau mana yang benar dan mana yang salah. Jangan harapkan dia bersikap kayak kita yang udah dewasa. Maha Suci Allah yang menciptakan nafsu lawwamah pada diri manusia untuk bisa mengingatkan diri sendiri saat berbuat kesalahan.</p>
<p>Saya benar-benar menyadari, bahkan saat si monster lebih memegang kendali, bahwa balita memang butuh selalu diingatkan, diarahkan tentang mana yang benar, mana yang salah. Jangankan yang balita, yang dewasa saja masih harus sering diingatkan.</p>
<p>Tapi terkadang saya bener-bener ga bisa menahan diri lagi. Benarlah sabda  Rasulullah saw. setelah perang Badar pada para sahabat, bahwa jihad yang terbesar adalah jihad melawan diri sendiri. Acap kali saya kalah melawan diri saya sendiri. Terutama dalam menundukkan kemarahan, si monster dalam diri saya. Ha ha. Saya jadi ingat suatu masa lalu, sahabat dekat saya mengatakan bahwa muka saya kalau lagi marah bener-bener kayak hantu. Mungkin lebih tepatnya kayak setan ya. Ya, saya pernah sangat marah padanya sampai gemetar badan dan suara saya saat kemarahan itu mencapai ambang batasnya. Tak heran, seseorang bisa sampai bener-bener kerasukan/kesurupan. Kondisi dimana dia tidak punya kendali apapun terhadap dirinya sendiri. Tak ingat lagi siapa dirinya. Na&#8217;udzu billahi min dzaalik. Semoga kita terlindung dari yang demikian.  </p>
<p>Energi kemarahan kadang membuat saya takjub. Besar sekali. Sering saya coba mengalihkan energi itu pada hal lain, misal mencuci piring dan alat dapur kotor yang menggunung. Subhanallah. Bisa selesai dalam waktu yang sangat singkat. Atau untuk membuka tutup galon air minum (merk Aq atau Cl atau yang lain). Dalam kondisi normal saya akan memerlukan alat bantu, misalnya pisau, untuk mengoyak tutup plastik yang cukup tebal itu. Subhanallah, jika sedang marah saya sanggup menyentakkan tutup itu tanpa pisau. Dan hanya sekali sentak, langsung lepas. Bukan berarti saya menyukai kondisi hati saya saat marah sih.</p>
<p>Sekedar untuk mengilustrasikan besarnya energi marah itu saja. Jadi, jangan heran jika seseorang bahkan bisa melukai bahkan membunuh jiwa lain saat dia marah. Bila sudah gelap mata, tak bisa lagi akal sehatnya mengukur kekuatannya. Seseorang bahkan bisa membanting barang berat hingga hancur lebur. Atau dia bisa meninju pintu sampai pintu itu jebol. Apakah kondisi itu sangat familier? Jangan-jangan saya sedang membicarakan kemarahan Anda ya? Ha ha. Tak perlu malu lah. Ini sangat manusiawi. Tapi tentu saja, sebagai manusia kita diberikan panduan/tuntunan bagaimana untuk mengendalikan monster dalam diri kita ini. Beruntung kita punya Pencipta Yang Maha Pemurah, juga Penyayang. Dia mengutuskan seseorang untuk bisa memandu manusia mencapai kondisi terbaik dalam dirinya. Self control.</p>
<p>Tentang tantrum balita, saya tahu sekali bahwa sebenarnya saya jauh lebih beruntung dari mereka yang tantrum balitanya lebih dashyat. Pernah saya melihat balita nangis dan menggelosorkan badannya di Mall. Berteriak-teriak dan menendang-nendang ngga karuan membuat muka ibunya merah padam. </p>
<p>Sulung saya pun lebih over tantrumnya saat ada orang lain. Apakah itu ayahnya, atau kakek-neneknya atau orang lain di luar lingkar keluarga besar. Hanya saja, tantrumnya, alhamdulillah, tidak sampai secara fisik banget seperti balita di Mall tadi. Hanya tangis dan rengekannya jauh lebih keras dan lebih awet.</p>
<p>Lalu, bagaimana solusinya? Membentak dan mencubit atau memukul tentu bukan pilihan jika kita memilih ikut panduan/tuntunan untuk menjadi versi terbaik dari diri kita. Saya yakin, haqqul yakin, Rasulullah saw tak sekalipun membentak balita. Kita pasti pernah merasakan diri kita mencapai versi terlembut saat hati kita tersentuh oleh suatu hal. Tapi lebih sulit mempertahankan si lembut itu saat si monster muncul, rasanya.</p>
<p>Solusi yang ditawarkan dalam panduan/tuntunan kita antara lain: berlindung pada Yang Maha Kuat dari kemarahan yang ditiupkan setan pada kita, berlindung dari provokasi setan yang merindu-dendam agar bisa membawa kita ke kerak jahannam.</p>
<p>Apa lagi? Saya membayangkan setan pun bisa terluka, bisa berdarah, tapi tentu dengan cara-cara yang syathoni lah. Dan bacaan Al-Qur&#8217;an bisa benar-benar melukai dan membuat setan berdarah-darah, dan meninggalkan kita, lari terbirit-birit dari sumber bacaan Al-Qur&#8217;an. Ayat kursiy, Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas memang terkenal sebagai ajian pelindung dari setan, tentu saja dengan cara membacanya dengan penghayatan, bukan dengan tulisan atau fotokopian yang disimpang di dompet,h cara ikat pinggang, atau dipajang di atas pintu rumah. Kalau dipajang gitu, apakah maksudnya setan disuruh untuk baca sendiri? Geli saya jadinya. Sudah pasti setan ga mau berhenti sebentar untuk baca Al-Qur&#8217;an kan.</p>
<p>Nah, apa lagi tuntunan untuk meredakan atau melibas sama sekali si monster dalam diri kita? Tahukah Anda, bahwa kemarahan adalah juga sebuah dosa? Bukan dosa besar memang. Tapi kalau dosa kecil ini bertumpuk-tumpuk? Bukankah akan jadi dosa yang lumayan berat? Jadi, baik sekali seandainya kita berusaha beristighfar, memohon ampun pada Yang Maha Pengampun, agar dosa-dosa kecil ini dihapus dari kita, sekaligus mengingatkan diri sendiri agar bisa menekan atau membunuh sama sekali si monster ini, seandainya mungkin.</p>
<p>Tuntunan lainnya lagi antara lain: Mengubah posisi badan. Jika tadinya berdiri, berusahalah untuk duduk. Jika masih terasa marah, berusaha rebah. Jika masih marah lagi, sebaiknya berwudhu&#8217; dan shalat.</p>
<p>Yang sering terjadi, saat si monster muncul, kita sering terlanjur marah dan lupa untuk sekedar berlindung dari setan yang meniup-niupi dada kita. Lawan! Berusaha untuk ingat pada Allah, minta perlindungannya dari setan, dari diri kita sendiri.</p>
<p>Itu kira-kira solusi untuk tantrum orang tua yang menghadapi tantrum balitanya. Lalu, bagaimana mengarahkan tantrum balitanya sendiri? Hmmm, karena saya sendiri juga sedang learning by doing it, saya hanya bisa memberika alternatif yang memungkinkan, bagi saya terutama <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Pernah nonton Nanny 911 di Metro TV? Sabtu, jam setengah lima sore kalau tak salah. Sering dicontohkan bagaimana sang Nanny menjinakkan tantrum balita-balita dalam keluarga-keluarga yang kesulitan dalam menangani balita mereka. Saya pun kadang habis akal memikirkan caranya sampai saya melihat cara-cara sang Nanny.</p>
<p>Pada dasarnya, dia akan membiarkan si balita meluapkan tantrumnya dulu. Berusaha mengajaknya bicara, kalau memungkinkan. Jika terlalu berontak dan balita mengganggu atau menyakiti orang tua atau saudaranya yang lain, maka Nanny akan menghukumnya. Menyuruhnya duduk di kursi hukuman. Hanya duduk saja di sana sampai dia diam dan bisa diajak bicara. Sering kali balita (atau anak seusia SD) berontak melarikan diri, tapi hanya untuk didudukkan lagi di kursi itu. Dan hal ini bisa butuh waktu banyak. Bisa belasan kali sampai si balita/anak menyerah, duduk diam di kursi itu. Wah, hanya menceritakannya saja, saya harus menarik napas dalam-dalam <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Baru setelah itu si balita/anak diajak bicara baik-baik, tanpa menyalahkan. Kita juga harus mendengarkan apa yang membuat dia kesal/marah/sedih. Kadang anak belum tahu emosi apa yang dia rasakan itu. Makanya kita perlu mengenalkanpada anak jenis-jenis emosi.</p>
<p>Memang bukan latihan yang gampang untuk bisa membantu anak melewati masa-masa penuh tantrum ini. Tapi bukankah memang itu tujuan Allah memberikan amanah ini pada kita? Selamat menikmati proses segala macam tantrum, dari balita, anak, remaja, hingga dewasa. Good luck <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/metamorphian.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/metamorphian.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/metamorphian.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/metamorphian.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/metamorphian.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/metamorphian.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/metamorphian.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/metamorphian.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/metamorphian.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/metamorphian.wordpress.com/99/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metamorphian.wordpress.com&blog=3252570&post=99&subd=metamorphian&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metamorphian.wordpress.com/2009/10/22/tantrum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4cd90b7b832950ced5ffea84f83b809c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wulynne</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Twilight: Ketika Sang Vampir Mencintai Mangsanya</title>
		<link>http://metamorphian.wordpress.com/2009/10/07/twilight-ketika-sang-vampir-mencintai-mangsanya/</link>
		<comments>http://metamorphian.wordpress.com/2009/10/07/twilight-ketika-sang-vampir-mencintai-mangsanya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 05:21:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wulynne</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metamorphian.wordpress.com/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Thanks Khotma, dah membuatku nonton Twilight.
Ehm. Biasanya kalo film tentang vampir tuh yang disorot banget pasti tentang seremnya dan kebanyakan berdarah-darah gitu. Tapi Twilight&#8230; film drama misteri malah  mbahas sisi romantis sang vampir. Indah banget. Tiga kali daku tonton film romantis ini, dan daku belum bosen, hihi.
Kalo film remaja SMU biasanya bintangnya bakal cantik, di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metamorphian.wordpress.com&blog=3252570&post=95&subd=metamorphian&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Thanks Khotma, dah membuatku nonton Twilight.</p>
<p>Ehm. Biasanya kalo film tentang vampir tuh yang disorot banget pasti tentang seremnya dan kebanyakan berdarah-darah gitu. Tapi Twilight&#8230; film drama misteri malah  mbahas sisi romantis sang vampir. Indah banget. Tiga kali daku tonton film romantis ini, dan daku belum bosen, hihi.</p>
<p>Kalo film remaja SMU biasanya bintangnya bakal cantik, di Twilight kok biasa aja menurutku sih. Hanya saja, di scene-scene tertentu, kadang dia nampak cantik, Kristen Stewart. Apa itu yang disebut inner beauty ya? Kecantikan dari dalam. Atau, jangan-jangan cuma trik kamera? Heee&#8230;</p>
<p>Robert Pattison pun gitu, kadang aja nampak ganteng di Twilight. Apa karena dia vampir yang romantis&#8230; longing for blood and also love&#8230;ahh damn romantic!</p>
<p>Lucu bin ajaib sih scene ketika mereka ketemu pertama kali di kelas biologi. Kecele abis daku, kupikir reaksi si &#8230;mmm&#8230; sapa namanya disitu&#8230;ah! Edward Cullen, nutup hidung karena si Bella lewat depan kipas angin, kupikir, karena bau badan Bella disgusting or sejenis itulah&#8230;eh ternyata&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  tonton ndiri aja deh <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Cinta mereka cinta monyet gitu. Cinta buta yang: I don&#8217;t care even if you are a vampire, predators of human, hunting human for their blodd. Pokoke gue cinta. Mau banget si Bella jadi vampir demi bisa bersama si Edward selamanya.</p>
<p>Dialog cintanya daku suka:</p>
<p>Bella: The last time I saw you, they&#8217;re black, and now they&#8217;re golden brown</p>
<p>Edward: I don&#8217;t have the strenght to stay away from you anymore (haduuuuh, daku cinta line ini, ga ku-kuuu, bisa bikin hati klepek-klepek)</p>
<p>Edward: And the lion falls in love with the lamb<br />
Bella: Stupid lamb<br />
Edward: A sick and miserable lion (kalo ga salah siiih, ga terlalu kedengaran soale doi berbisik, atao anak gw aja lagi ribut hihi)</p>
<p>Edward: Isn&#8217;t it enough just living beside me for the rest of your life? (Line ini biasa saja kalo diucapkan sendiri gini, tapi cantik kalo dipakai untuk menolak request Bella pas minta dijadiin vampir oleh Edward)</p>
<p>Dan banyak lagi.</p>
<p>Monolog Bella juga aku suka. Yang awal tentang pilihan tempat untuk mati dekat orang yang dia cintai. Di tengah, tentang three things she&#8217;s positive are:&#8230; Juga di scene yang Bella dirawat setelah hampir mati dihisap darahnya sama Edward.</p>
<p>Hal yang wuaneh and ga bisa kuterima di film ini, yang menurutku maksa banget adalah bahwa vampir ga bisa kena sinar matahari karena takut ketauan bahwa mereka berbeda.</p>
<p>Beda? Hihi, iya. Karena saat kena matahari badan dan muka mereka&#8230;. Pasti kau bakal jawab hangus jadi abu kan? Bukan! Badan mereka&#8230;twinkling&#8230;like diamond! Maksa ngga tuuuh? Alah tapi ya udahlah, mungkin maksudnya pengen bikin dialog yang touching karena saat itu komentar Bella adalah: You&#8217;re&#8230;beautiful. Dan Edward remarked: Beautiful? This is the body of a killer Bella!</p>
<p>Ya, gitu deh. Tapi overall, aku suka, buktinya, masih suka nonton bolak-balik.</p>
<p>Adegan di sekolah juga ok. Normal. Kecuali, suasana mendung, gelap, dan berawan yang meliputinya. Yaaa cocok lah, kan filmnya tentang vampir.</p>
<p>Menjebak sekali, kirain yang ngelakuin pembunuhan-pembunuhan itu Edward dan keluarganya. Ternyataaa&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tapi konflik antara the Cullens dan kelompok James kurang seru. Begitu juga dengan kelompok Quilet (ah lupa namanya) yang descendant dari serigala. Kurang runcing, kurang dalem. Mungkin aja ntar di-sequelnya diperdalam lagi (jiaah, pe de bgt bakal ada sequelnya, ehehehe).</p>
<p>Soundtracknya bagus-bagus. Cocok lah dengan scene-scene yang diiringi.<br />
Berapa bintang ya enaknya? Mungkin, hmm, empat bintang deh, hehe.</p>
<p>Nah, pertanyaan yang cukup menggangguku setelah film nya berakhir adalah: ada novelnya ga sih Twilight ini? Aku pengeeen banget baca. Pasti lebih seru kalo baca bukunya langsung dong?!</p>
<p>Nah, yang belom nonton, yang suka drama, yang suka misteri, tonton lah&#8230;<br />
Yang emak-emak, jangan kelupaan masak n ngemong anak loh kalo nonton, ehehe</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/metamorphian.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/metamorphian.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/metamorphian.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/metamorphian.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/metamorphian.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/metamorphian.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/metamorphian.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/metamorphian.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/metamorphian.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/metamorphian.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metamorphian.wordpress.com&blog=3252570&post=95&subd=metamorphian&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metamorphian.wordpress.com/2009/10/07/twilight-ketika-sang-vampir-mencintai-mangsanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4cd90b7b832950ced5ffea84f83b809c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wulynne</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>O&#8217;ouw..Jantungku!</title>
		<link>http://metamorphian.wordpress.com/2009/09/05/oouw-jantungku/</link>
		<comments>http://metamorphian.wordpress.com/2009/09/05/oouw-jantungku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 07:09:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wulynne</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metamorphian.wordpress.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Wah, ternyata beneran sakit jantung aku. Innalillah. Astaghfirullah, ampuni dosa-dosaku Allah, Yang Maha Pengampun. Kalau sakitku ini karena dosaku besar atau kecilnya, mohon diampuni. Beri aku kekuatan untuk mengubah kebiasaan suka ngomel dan emosi, ngontrol makananku, dan lainnya yang bikin aku sakit ini ya (begging Your mercy).
Harus kontrol makanan nih. Browsing. Bertanya pada dunia (di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metamorphian.wordpress.com&blog=3252570&post=92&subd=metamorphian&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Wah, ternyata beneran sakit jantung aku. Innalillah. Astaghfirullah, ampuni dosa-dosaku Allah, Yang Maha Pengampun. Kalau sakitku ini karena dosaku besar atau kecilnya, mohon diampuni. Beri aku kekuatan untuk mengubah kebiasaan suka ngomel dan emosi, ngontrol makananku, dan lainnya yang bikin aku sakit ini ya (begging Your mercy).</p>
<p>Harus kontrol makanan nih. Browsing. Bertanya pada dunia (di internet) tentang sakit nyeri di dada kiri yang tembus sampai ke punggung ini membawaku belajar tentang angina pektoris. Begitulah nama sakit yang kusandang saat ini. Keren namanya ya. Tapi ga keren blas rasa sakitnya . Huh.</p>
<p>Rekor baru, setelah dulu sempet hipertensi/darah tinggi pas lagi hamil. Kontrol emosi lagi dol nih. Akhir-akhir ini memang suka ngomel dan menghela napas panjang, apalagi kalau si ayah dan sang anak lagi perang mulut, latihan argumentasi gitu kalo maksa dikasi istilah positif (yee). Aku biasanya langsung memelototin mata ke kedua pihak supaya gencatan senjata aja.</p>
<p>Makanan? Dengan alasan lagi nyusuin si Salman (5,5 bulan), aku makan aja semua, santan, kolak, sate, sayur, kacang panjang, kangkung, brokoli, ayam bakar, ikan bakar, kepiting, cumi, udang, telor, jeroan, susu prenagen (halah, kok jadi ngiler gini, slurrpp). Demi sang anak gitu. Plus minim olahraga bangt. Udah dua or tiga bulan ini ga pernah lagi senam. Biasanya sih sempetin senama 2 or 3 hari sekali. Di rumah, pake video panduan senam.</p>
<p>Jadi, ini rupanya hasilnya. Panen. Panen penyakit. Astaghfirullah.</p>
<p>Ga pernah sangka bakal kena sakit jantung. Aku termasuk yang over PD dengan kesehatan badanku. aling sakitnya, sakit kepala, flu, wis pokoke yang remeh temeh gitu. Agak shock juga nih, ngerasain jadi pesakitan penyakit serius gini.</p>
<p>Kebanyakan ngomel, ndengerin omelan, ngeliat ga bener dikit rasanya udah gatel nih tangan dan mulut buat mbenerin. Itu sebenernya masuk kategori dosa. Dosa kecil sih, bukan dosa besar, sama sekali bukan. Tapi, tetap aja dosa. Nambah-nambahin beratnya timbangan amal jelek. Ugh!</p>
<p>Sekarang rasain dweh. Mau narik napas panjang aja, langsung ostosmastis ngeryitin dahi.</p>
<p>Sekarang sih, mau makan aja mikir dua kali: Ni makanan boleh gak ya? Minyak, santan, jeroan, gorengan, kepiting dkk tadi ga boleh dulu. Wah, jadi berniat mbetulin program olahraga dan makan banget nih, demi bisa makan enak lagi. Halaah. Yaa, separo jujur tuh. Yang jelas, ngga pengen lah ngerasain sakit gini.</p>
<p>Semoga&#8230; semogaaa aja bisa istiqamah jalanin yang harus dijalanin. Allah, tolong aku ya. Aku lemah nih tanpaMu.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/metamorphian.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/metamorphian.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/metamorphian.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/metamorphian.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/metamorphian.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/metamorphian.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/metamorphian.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/metamorphian.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/metamorphian.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/metamorphian.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metamorphian.wordpress.com&blog=3252570&post=92&subd=metamorphian&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metamorphian.wordpress.com/2009/09/05/oouw-jantungku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4cd90b7b832950ced5ffea84f83b809c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wulynne</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hajar Terus Sampai&#8230;Tiit! Alarm pun Menjerit</title>
		<link>http://metamorphian.wordpress.com/2009/09/04/hajar-terus-sampai-tiit-alarm-pun-menjerit/</link>
		<comments>http://metamorphian.wordpress.com/2009/09/04/hajar-terus-sampai-tiit-alarm-pun-menjerit/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 05:47:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wulynne</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[jantung]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://metamorphian.wordpress.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[@Metamorphian: untung cepat lapor di sini &#8230;.SUDAH PASTI itu gejala koroner tuh&#8230;ada penyempita pembuluh darah&#8230;tapi nampaknya masih bisa ditolerir&#8230;. segera periksa dokter deh&#8230;. kalaupun belum &#8230;jaga diri jangan sampai bener benar jalan darah tersumbat, yaitu dengan :
- istirahat cukup&#8230;
- gerak badan ringan yg disengaja&#8230;sedikit sedikit ya&#8230;
- kalau puasa, teruskan dulu ..tapi jangan cape cape dulu&#8230;.
- [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metamorphian.wordpress.com&blog=3252570&post=89&subd=metamorphian&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>@Metamorphian: untung cepat lapor di sini &#8230;.SUDAH PASTI itu gejala koroner tuh&#8230;ada penyempita pembuluh darah&#8230;tapi nampaknya masih bisa ditolerir&#8230;. segera periksa dokter deh&#8230;. kalaupun belum &#8230;jaga diri jangan sampai bener benar jalan darah tersumbat, yaitu dengan :<br />
- istirahat cukup&#8230;<br />
- gerak badan ringan yg disengaja&#8230;sedikit sedikit ya&#8230;<br />
- kalau puasa, teruskan dulu ..tapi jangan cape cape dulu&#8230;.<br />
- pas buka minum air putih saja dulu 2-3 gelas perlahan lahan (stop dulu kolak kolakan/kue kue..dsb)<br />
- jangan makan nasi dulu&#8230;.+ kurma boleh ..jangan banyak banyak dulu..<br />
- setelah itu minum air teh hangat -tanpa gula ya ..kental boleh&#8230;<br />
- istirahat sebentar (shalat dll, jalan dikit)<br />
- usahakan pengganti makannya &#8230;buah dulu saja&#8230;.<br />
- sahur bisa pake havermut saja + buah buahan (pisang, mangga, pepaya dan sejenisnya)</p>
<p>setelah itu buat program ..untuk meredam kenaikan kolesterol dalam tubuh&#8230;..<br />
(saya 1998, telah divonis &#8220;koroner&#8221; pada general chek up..setelah itu mulai deh merubah gaya makan minum, dan lumayan sekarang jarang kerasa &#8216;gatel di bagian dada kiri&#8221; lagi&#8230;pusing dan pegal pegal pun jarang&#8230;.tapi yaitu tadi syaratnya harus atur intake makana minumanya&#8230;.ya lebih enak lah daripada harus dioperasi atau pasang 2 &#8211; 3 ring&#8230;)</p>
<p>Semoga bisa membantu&#8230;..</p>
<p>**<br />
Malam tadi daku terbangun dengan sangat tidak nyaman. Dada kiri terasa ngilu/linu sampai rasanya tembus ke punggung. Buat aku yang sampe saat ini selalu pe de dengan kesehatan badanku, ini sebuah shock yang lumayan. Aku diemin aja lah, kupikir mungkin besok pagi dah ilang sakitnya. Aku lentur-lenturkan badan ke kanan dan ke kiri. Tapi ternyata, terlalu sakit ke kirinya. Hhh. Ya sudahlah. Aku tidur lagi.</p>
<p>Paginya, ternyata awet sakitnya. Duduk depan internet, aku meluncur cari-cari info dengan keyword: sakit dada kiri tembus ke punggung. Yang banyak muncul malah iklan agen kalung kesehatan biofir kalo ga salah. Ya sudahlah, santai aja aku fesbukan, ketemu temen-temen ditimpali suami tercinta,&#8221;Nda, kok fesbukan terus, ga sakit matanya?&#8221; Katanya dengan penuh &#8220;cinta&#8221;.</p>
<p>Eh ada mba IMul posting, tergelitik pengen reply juga nih. Sambil klik di poto mba IMul sambil lirik2 rumah fesbuk beliau, ooo ada alamat blognya, aku klik juga deh. Eh, ternyata blog, anaknya. Tapi ada link ke blog mbak IMul juga tuh. Klik aah.</p>
<p>Waah, keren blognya. Banyak nulisnya. Aktif juga yak. Nah, itu ada tulisan bahasa asing? Angina Pectoris&#8230;Angin duduk. Baca aah&#8230;</p>
<p>Seru juga. Ah jadi kepikir pengen konsul deh. Jadilah daku konsul ke mbak IMul tentang sakit ngilu dada ini. Eh ternyata yang balesin kang odex yang komen sebelumnya. Yaa seperti aku copas di atas itu nasihatnya.</p>
<p>Reaksiku? Kaget. Iya lah. Ini aja nulis sambil manasin air mo bikinteh kental. Walah, manis juga ga boleh. Santan pasti ga boleh deh.</p>
<p>Sebelum ini aku santai aja, semua kumakan. Kagak pake pantang-pantangan. Hajar saja semua. Mana lagi nyusuin gini. Gak peduli berat badan naik yang penting ASI lancar, dede kenyang.</p>
<p>Eh, sekarang&#8230; nasi pun ga boleh&#8230;waduuh.</p>
<p>Alhamdulillah siih, ga langsung dicabut ijin hidupku sama Allah. Masih dikasih warning. Alarm yang di dada kiri sampe punggung yang dibunyiin. Alhamdulillah, ga langsung meledak. Ngeri juga kan, kalo harus dipasang ring (baru tahu juha nih kalo yang error kudu dipasang ring). Hiiy.</p>
<p>Semoga tekad ini bisa istiqamah dijalanin. Amin.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/metamorphian.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/metamorphian.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/metamorphian.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/metamorphian.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/metamorphian.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/metamorphian.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/metamorphian.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/metamorphian.wordpress.com/89/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/metamorphian.wordpress.com/89/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/metamorphian.wordpress.com/89/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=metamorphian.wordpress.com&blog=3252570&post=89&subd=metamorphian&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://metamorphian.wordpress.com/2009/09/04/hajar-terus-sampai-tiit-alarm-pun-menjerit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4cd90b7b832950ced5ffea84f83b809c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wulynne</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>